Archive for the ‘Intisari Agama Buddha’ Category

Empat Kebenaran Mulia   Leave a comment

Empat Kebenaran Mulia

42. Inti dari seluruh ajaran Sang Buddha adalah Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya sacca). Dengan mengerti Empat Kebenaran Mulia, dapat dikatakan seseorang telah mengerti agama Buddha. Sang Buddha memberi batasan tentang Kebenaran yang pertama, sebagai berikut:Lalu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan itu (dukkha ariya sacca)? Lahir adalah penderitaan, bertambah tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; sedih, penyesalan, nyeri, duka-cita dan putus asa adalah penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, berkumpul dengan yang tidak disukai adalah penderitaan.1

Terlihat dari pernyataan diatas, bahwa Sang Buddha berbicara tentang dua macam penderitaan – jasmaniah dan rohaniah. Penderitaan jasmaniah adalah rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, umur tua, kecapaian, dan sebagainya. Penderitaan rohaniah termasuk rasa sakit oleh keadaan mental-takut, bosan, gelisah, sedih, kesepian dan segala perasaan negatif lainnya. Hidup adalah pengalaman-pengalaman pada penderitaan, dalam berbagai kadar, sedikit ataupun banyak. Sang Buddha tidak mengingkari adanya kebahagiaan dan kegembiraan, Beliau semata-mata mengingatkan kita pada kenyataan yang tak dapat disangkal, ialah bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, bahwa penderitaan adalah masalah yang kita semua alami, pula sekaligus ingin kita hindari. Pada dasarnya, hampir semua kegiatan dan upaya kita sehari-hari, tanpa kita sadari, bersangkutan dengan usaha untuk menghindari penderitaan dan mencari kebahagiaan. Namun, walau begitu banyak waktu dan akal-daya yang dikerahkan untuk mencari kebahagiaan sejati, kepuasan dan kedamaian hati tetaplah jarang dan sulit digapai. Sang Buddha, bagai seorang dokter yang penuh kasih-sayang, datang untuk menunjukkan pada umat manusia, cara untuk mengatasi penderitaan, kesakitan, kematian dan kelahiran kembali, dan juga cara agar dapat mencapai kebahagiaan Nibbana.

43. Kebanyakan agama berdasar pada kepercayaan semata, namun ajaran Sang Buddha berdasar pada kebenaran yang kokoh. Kebenaran (sacca) dapat didefinisikan sebagai pernyataan atau pengejawantahan-realisasi, yang berhubungan dengan kenyataan. Kebanyakan ajaran agama membuat pernyataan yang dikatakannya benar, namun karena kebanyakan pernyataan itu tak dapat dibuktikan, maka tetap disebut sebagai kepercayaan, bukannya kebenaran. Apabila seseorang berkata: “Ada seribu rupiah dalam saku saya,” dan setelah diperiksa memang ada seribu rupiah dalam sakunya, maka baru dikatakan bahwa pernyataan orang itu benar dan kita kemudian maklumi hal itu sebagai kebenaran.
Apabila kita tidak dapat memeriksa sakunya, kita hanya dapat mengatakan bahwa orang itu menyatakan mempunyai seribu rupiah dan bahwa kita mempercayai pernyataannya. Kebenaran, yang adalah pembuktian jelas lebih berharga dibanding pernyataan, yang hanya untuk dipercayai. Penderitaan bukan suatu paham; itu adalah suatu kenyataan. Penderitaan bukan juga sesuatu yang diterima keberadaannya, karena disebut dalam kitab suci, tapi sesuatu yang kita ketahui lewat pengalaman kita sendiri. Jadi sangatlah tepat bila dikatakan bahwa ajaran Sang Buddha berdasarkan kenyataan yang dapat dibuktikan oleh kita semua, bukan kepercayaan yang diterima atas dasar keyakinan semata.

44. Kebenaran mulia yang kedua adalah Kebenaran Mulia tentang Penyebab Penderitaan (dukkha samudaya ariya sacca). Sang Buddha memperlihatkan pada kita, bahwa semua penderitaan yang kita alami disebabkan langsung atau tidak langsung oleh keinginan-rendah (tanha) dan ketidak-tahuan (avijja)2 Adalah mudah dimengerti, bagaimana nafsu-keinginan dan ketidak-tahuan, dapat menyebabkan penderitaan batiniah. Sebagai contoh yang sederhana, seseorang berkeinginan kuat untuk menjadi kaya, sebab menurutnya uang adalah segala-galanya dan akan menyebabkannya berbahagia. Lalu, karena tidak berhasil menjadi kaya, dia frustrasi dan sangat kecewa. Hubungan antara keinginan-rendah (menginginkan uang) dan ketidak-tahuan (pandangan salah, bahwa uang semata yang dapat akan memberinya kebahagiaan) di satu pihak; dan penderitaan (frustrasi dan kekecewaan) pada pihak lainnya. Tapi, apakah keinginan-rendah dan ketidak-tahuan juga dapat menyebabkan penderitaan jasmaniah? Telah kita lihat sebelumnya (30), bahwa keinginan-rendah menyebabkan kamma, yang pada gilirannya kemudian menyebabkan kelahiran-kembali. Terlahir-kembali berarti memiliki badan, dan memiliki badan berarti bisa mengalami kecelakaan, terluka, sakit, menjadi lemah dan tua dan segala macam penderitaan badaniah. Dengan demikian jelas, bahwa keinginan-rendah dan ketidak-tahuan juga menyebabkan penderitaan badaniah.
45. Tapi, apabila keinginan adalah salah satu penyebab dari penderitaan, bukankah kita seharusnya tidak usah berdaya-upaya untuk hal apapun juga? Untuk dapat menjawab pertanyaan diatas, adalah penting untuk menyadari bahwa Sang Buddha mengajarkan perbedaan antara keinginan yang tumbuh dari ketidak-tahuan dan keinginan yang timbul atas dasar pengertian. Sang Buddha sering mengatakan, bahwa kita seharusnya senantiasa bergairah (adithana), kita senantiasa bertekad (tibbacchanda), juga senantiasa mempunyai cita-cita yang kuat untuk mencapai Nibbana (chandajato anakkate)3. Keinginan menjadi orang-tua yang baik, keinginan menjadi teman yang setia, keinginan menjadi warga-negara yang bertanggung jawab adalah keinginan yang berdasar atas pengertian, dengan demikian akan menghasilkan kebaikan, bukannya penderitaan. Berkeinginan melaksanakan Jalan atau mencapai Nibbana adalah keinginan berdasar atas pengertian, dengan demikian akan menghasilkan kebaikan, bukannya penderitaan. Apabila kehendak, keinginan dan cita-cita didasarkan atas pengertian, dan apabila kesemuanya itu diwujudkan dalam bentuk perilaku sehari-hari, dan bila semuanya diarahkan pada sasaran yang mulia, maka justru keinginan semacam itulah yang dianjurkan.
46. Kebenaran Mulia yang ke-tiga adalah Kebenaran Mulia mengenai Musnahnya Penderitaan (dukkha nirodha ariya sacca). Pada Kebenaran ini, Sang Buddha dengan jelas dan tegas mengajar kita, bahwa kita dapat bebas dari penderitaan dan mencapai kebebasan dan kebahagiaan Nibbana. Istilah Nibbana secara harfiah berarti ‘padam’, serta mengacu ke pemadaman api keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin. Sang Buddha, juga menggunakan ungkapan-ungkapan lain unyuk menggambarkan keadaan ini – kelanggengan (amata), Pernaungan Yang Aman (khema), Kedamaian (santa), Perlindungan (tana), Kebahagiaan Tertinggi (paramam sukham), Penghancuran Keinginan rendah (tanhakkhaya), Keabadian (dhura). Apa itu Nibbana? Ada pendapat yang menganggap bahwa Nibbana identik dengan kemusnahan dari pribadi (Inggeris: annihilation). Sang Buddha menegaskan bahwa pandangan ini salah.

Apabila seorang telah membebaskan batinnya, para dewa sekalipun tak dapat menjejakinya, walau mereka berpikir: “Ini adalah kesadaran Tathagata.” Mengapa? Disebabkan karena Buddha tak terjejaki. Walau Saya berkata demikian, beberapa pertapa dan Brahmin, salah menafsirkan, bertentangan dengan kenyataan, mereka berkata: “Pertapa Gotama adalah berpandangan nihilis, sebab dia mengajarkan pemotongan, penghancuran, hilangnya keberadaan secara menyeluruh,” tapi Saya tidak mengatakan demikian. Dari dulu sampai sekarang, Saya hanya mengajarkan tentang Penderitaan dan penghentian Penderitaan.4

Ada kelompok Buddhis, yang menyatakan bahwa Nibbana adalah pemusnahan diri, namun mereka juga menolak bahwa Sang Buddha mengajarkan “Kemusnahan diri”. Mereka mencoba menjelaskan kontradiksi ini dengan berkata: “Pemusnahan-Diri hanya mungkin terjadi, bila ada pribadi yang akan dimusnahkan. Namun pada kebenaran akhir tidak ada suatu yang disebut “Pribadi”. Lalu bagaimana mungkin Nibbana adalah “Pemusnahan-Diri”, bila tidak ada pribadi yang akan musnah?” Dibalik permainan-kata diatas, mereka juga tetap mengatakan Nibbana adalah kekosongan, dimana pribadi tidak ada lagi dalam bentuk apapun. Banyak kesempatan bagi Sang Buddha untuk dapat menyatakan bahwa mereka yang mencapai Nibbana telah hilang keberadaannya, tapi Beliau tidak pernah mengatakan demikian. Sekali waktu, Upasiva bertanya kepada Sang Buddha:

Mereka yang telah pergi (ke Nibbana),
Apakah mereka musnah keberadaannya,
Atau mereka tetap tak lekang selamanya?
Jelaskan pada saya, Oh, Guru Bijaksana
Sebab Kaulah yang mengetahui sejelasnya.

Lalu, Sang Buddha menjawab:

Tak dapat dinilai mereka yang telah pergi.
Yang oleh seseorang mungkin dikatakan sebagai
Tidak ada lagi.
Ketika semua fenomena telah tiada,
Semua cara untuk menggambarkannya juga tiada.5

Sekali waktu, seorang pengembara bernama Vacchagota bertanya pada Sang Buddha, tentang keberadaan mereka yang telah mencapai Nibbana, mereka timbul (dengan kata lain, tetap keberadaannya) atau tidak timbul (dengan kata lain, hilang keberadaannya). Sang Buddha menolak untuk memberi jawaban, dan menerangkan pada kita bahwa Beliau menolak, karena Nibbana adalah keadaan yang tak dapat diterangkan dengan kata-kata.

“Tapi, Gotama yang bijaksana, dimana timbulnya para siswa yang batinnya telah terbebaskan itu?”
“Istilah ‘Timbul’ tidak dapat terpakai”
“Bila demikian, bagaimana kalau dikatakan ‘Tidak timbul’”
“Tidak timbul” juga tidak terpakai.
“Bila demikian, apakah mereka ‘timbul dan juga tidak timbul’?”
“‘Timbul dan juga tidak timbul’ juga tidak terpakai.”
“Bila demikian mereka ‘tidak timbul dan juga tidak tidak timbul’?”
“‘Tidak timbul dan juga tidak tidak timbul’, juga tidak terpakai”.
“Dengan demikian, saya kehilangan jejak dalam hal ini, Gotama yang baik, saya bingung, dan kepuasan yang saya dapati pada pembahasan kita yang lalu, sekarang telah tiada lagi….”
“Kesadaran Tathagata terbebas dari pengungkapan-pengungkapan; dia begitu dalam, tak terukur, tak diketahui dalamnya seperti lautan. ‘Timbul’ tak terpakai, ‘tidak-timbul’ tak terpakai, ‘Timbul dan juga tidak timbul’ tak terpakai, ‘tidak timbul dan juga tidak tidak timbul’ juga tidak terpakai.”6

Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seorang yang telah mencapai Nibbana keberadaannya tidak ada lagi, adalah bahwa semua ciri-ciri yang dihubungkan dengan keberadaan – lahir, mati, jasmaniah, bergerak dalam waktu dan ruang, dan berperasaan sebagai suatu pribadi sendiri – tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan Nibbana. Yang dimaksud Sang Buddha, bahwa seseorang yang telah mencapai Nibbana keberadaannya tidak musnah, adalah tepat seperti itu. Dimensi Nibbana tak dapat digambarkan secara tepat dengan bahasa duniawi, pula keberadaan Nibbana tak dapat dibayangkan oleh pikiran duniawi.

47. Walau sulit digambarkan, namun Sang Buddha memberi pada kita gambaran umum tentang keberadaan Nibbana. Dengan menggambarkan batin manusia, Sang Buddha berkata:

Batin adalah putih suci, namun dia ternodai oleh kekotoran batin yang sebelumnya tidak ada. Orang awam tidak menyadarinya, oleh karenanya mereka tidak menjaga batinnya. Batin adalah putih suci, dan dapat dimurnikan dari kekotoran batin yang sebelumnya memang tidak ada. Siswa yang agung mengerti hal itu, makanya mereka menjaga batin mereka.7

Dengan kata lain, batin adalah suci pada awalnya (pabhassaram idam citam), kemudian dinodai kotoran batin yang sebenarnya adalah sesuatu yang asing bagi batin. Bila kotoran batin dibersihkan, maka batin kembali suci lagi. Sang Buddha bersabda:

Dimana tanah, air, api dan udara tak berpijak? Dimanakah yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa, akhirnya musnah? Jawabnya adalah: Itu adalah kesadaran dari seorang Yang Agung – tak tertandai, tak terikat, dan bercahaya. Disana tak ada tempat tanah, air, api dan udara itu berpijak. Disana yang panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni, nama dan rupa akhirnya musnah. Bila kesadaran telah musnah, maka demikian pula semuanya itu.8

Nibbana adalah “alam” dimana jasmaniah dan semua keberadaan berlawanan-pasang – panjang dan pendek, kecil dan besar, murni dan tak murni – tidak ada lagi serta batin tak tertandai lagi (anidassanam), tak terikat (anatam) dan bercahaya (sabbato pabham). Bercirikan sebagai keadaan-kekal (nibbanapadam accutam) dari kemurnian (suddhi), kebebasan (vimitti) dan kebahagiaan-tertinggi (nibbanam paramam sukham).

48. Sang Buddha juga memberitahu, bahwa Nibbana dicapai dalam dua tingkatan atau cara. Pertama, mereka yang mencapai Nibbana, dengan batin yang telah bebas, tapi karena jasmani-nya masih ada, maka dia masih menjadi obyek penderitaan jasmaniah. Ini disebut Nibbana dengan sisa dasar (saupadisesa nibbana). Lalu, setelah mereka mati, batin juga dibebaskan dari penderitaan jasmaniah dan seorang mencapai Nibbana sempurna. Ini disebut sebagai Nibbana tanpa sisa dasar (anupadisesa nibbana), atau sering pula disebut sebagai Nibbana sempurna (parinibbana).
49. Walau kita hanya dapat mengerti sepenuhnya keadaan Nibbana setelah kita mengalaminya sendiri, namun kita tetap dapat mengetahui keberadaan keadaan itu. Pertama, kita dapat menyimpulkan keberadaannya. Apabila ada dimensi disertai kelahiran, kematian, kekotoran batin dan kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa ada dimensi tanpa itu. Naskah Buddhis kuno menyebutkan:

Dimana ada panas,
Disitu pasti pula ada dingin.
Demikian pula,
Dimana ada tiga api,
Disitu pasti pula ada Nibbana.

Dimana ada kejahatan,
Disitu pasti pula ada kebajikan.
Demikian pula,
Dimana ada kelahiran,
Keadaan “tak-terlahir”, dengan demikian, juga ada.9

Kedua, kita dapat mengetahui adanya keadaan seperti Nibbana, karena Sang Buddha mencapainya, dan Beliau dengan tegas menjelaskan keberadaannya. Beliau bersabda:

Ada sesuatu Yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat, Tak-Tergabung. Bila tidak ada yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat, Tak-Tergabung, maka tidak akan ada jalan untuk bebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung. Tetapi karena adanya Yang Tak-Terlahirkan, Tak-Terjadi, Tak-Terbuat, Tak-Tergabung, maka ada jalan untuk terbebas dari Terlahir, Terjadi, Terbuat dan Tergabung.10

Sekali lagi Beliau menegaskan keberadaan-Nya, sebagai berikut:

Ada suatu keadaan, dimana tidak ada tanah, air, api dan udara, dimana tidak ada Lingkup Ruang Tak-terbatas, Kesadaran Tak-terbatas, Kehampaan, juga Lingkup bukan-Kesadaran bukan pula Tanpa-kesadaran, tidak di bumi ini, di bumi seberang ataupun keduanya, tidak ada matahari, tidak ada bulan, dimana tidak ada yang datang untuk dilahirkan, tidak ada yang pergi ke kematian, tidak ada kurun waktu, tidak ada yang terjatuh dan timbul. Bukan sesuatu yang terpaku, tidak pula bergerak, dia berasaskan kehampaan. Inilah sebenarnya akhir penderitaan.11

50. Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya? Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya. Senandung para wanita yang telah mencapai Nibbana, terdengar lantang dan jelas, dalam menjawab pertanyaan ini.

Keadaan Abadi ini telah banyak yang mencapainya,
Dan tetap dapat dicapai saat inipun,
Bagi siapa yang menjalankannya sendiri,
Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.12

Apakah setiap orang dapat mencapai Nibbana atau tidak? Jawaban dari pertanyaan ini tak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing-masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dan dengan segala macam cara, menganjurkan orang untuk melaksanakannya; namun tentu saja pelaksananya tergantung pada orang itu sendiri-sendiri.

“Gotama Yang Baik, setelah diajar dan diarahkan oleh-Mu, apakah semua siswa-Mu akan mencapai cita-cita murni itu, atau sebagian tidak akan berhasil?”
“Sebagian akan mencapainya dan sebagian tidak.”
“Apa alasannya, Gotama Yang Baik? Apa penyebabnya?”
“Saya akan bertanya padamu, Brahmin; jawablah bila berkenan. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jalan ke Rajagaha?”
“Ya, Gotama Yang Baik, saya mengetahuinya.”
“Baik, andaikan seorang datang padamu, dan berkata bahwa dia ingin ke Rajagaha dan bertanya arahnya. Lalu, engkau berkata: ‘Jalan ini menuju ke Rajagaha; berjalanlah terus sampai ke suatu desa, berjalanlah terus sampai engkau sampai di pasar, lalu bila engkau berjalan terus engkau akan sampai di Rajagaha dengan kebun-kebunnya yang indah, hutan-hutan yang indah, lapangan-lapangan yang indah dan kolam-kolam yang indah. Namun, walau telah ditunjukkan dan diarahkan olehmu jalan itu, tapi orang tadi mengambil jalan lain yang menuju ke Barat. Dan, oleh karenanya dia tidak sampai ke Rajagaha. Lalu, andaikan seorang lagi datang padamu, dan dia juga berkeinginan ke Rajagaha, lalu karena dia mengikuti petunjukmu, maka akhirnya dia tiba dengan selamat. Jadi oleh karena ada Rajagaha, oleh karena ada jalan menuju kesana, dan juga ada engkau sebagai penunjuk jalan, mengapa orang yang pertama tidak sampai sedangkan orang yang satunya lagi sampai ke Rajagaha?” “Gotama Yang Baik, apa yang harus saya kerjakan dalam hal ini? Saya tiada lain hanyalah seorang penunjuk jalan.” “Demikian pula, Brahmin; ada Nibbana, ada jalan menuju ke Nibbana, dan ada Saya sebagai penunjuk jalan menuju ke Nibbana. Tapi hanya sebagian Siswa yang diajar dan diarahkan oleh-Ku yang mencapai Nibbana, sebagian lainnya tidak. Apa yang dapat Saya perbuat dalam hal ini? Sang Tathagata adalah penunjuk Jalan.13

Tapi satu hal yang pasti – siapapun yang mencapai Nibbana adalah sebagai hasil menjalankan ajaran Sang Buddha.

“Bila, dengan pengertian penuh Gotama Yang Baik telah mengajarkan Dhamma pada siswa-Nya untuk pemurnian makhluk hidup, untuk mengatasi penyesalan dan keputus-asaan, untuk mengakhiri kesedihan dan kemurungan, untuk mencapai tatacara-nya, untuk mencapai nibbana; lalu apakah seluruh dunia akan mencapainya, atau seperduanya, atau sepertiganya?”
Sampai disitu, Sang Buddha berdiam diri. Lalu Ananda berpikir: “Orang ini hendaknya jangan sampai berpikir bahwa Sang Buddha tidak dapat menjawab pertanyaan yang penting ini.” Jadi Ananda berkata: “Saya akan memberi suatu perumpamaan.” Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat, bermenara dan berpintu gerbang hanya satu, pintu gerbang dijaga ketat, hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya, dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya. Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun. Dengan demikian dia tahu, bahwa semua makhluk, besar ataupun kecil, hanya dapat masuk ke kota atau keluar dari kota dengan melewati gerbang tersebut. Sama halnya dengan pertanyaanmu, tidaklah penting bagi Sang Buddha. Apa yang disabdakan Beliau adalah, bahwa “Siapapun yang telah terbebas, sedang terbebas ataupun akan terbebas dari dunia ini, dia akan terbebas dengan cara melepaskan ke-lima rintangan, melepaskan kesesatan-batin yang melemahkan kebijaksanaan, dia akan terbebas dengan cara mengembangkan batin dalam empat dasar kesadaran, dan dengan mengembangkan tujuh unsur pencerahan.”14

Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana, Beliau “mengajak” semua umat manusia untuk mengikuti Jalan agar umat manusia juga dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan. “Ajakan” Beliau masih berlaku sampai saat ini.

Pintu-pintu ke ke Abadi-an telah terbuka,
Marilah, mereka yang dapat mendengar, berusaha dengan keyakinan.15

51. Kebenaran Mulia yang ke empat adalah Jalan yang menuju ke akhir penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada), dan Jalan-nya adalah Jalan Berunsur Delapan (Ariya Atthangika Magga). Disebut ‘Mulia’ karena bila dilaksanakan, maka akan menuntun seseorang ke kehidupan yang mulia; disebut ‘Berunsur Delapan’, karena terdiri dari Delapan Unsur, dan disebut ‘Jalan’, karena seperti jalan pada umumnya, akan menuntun seseorang dari satu tempat ke tempat lain, dengan hal ini dari Samsara ke Nibbana. Dari Empat Kebenaran Mulia; tiga kebenaran yang pertama adalah bagaimana pandangan Sang Buddha terhadap dunia ini – Teori; lalu Kebenaran ke-empat adalah apa yang dianjurkan Sang Buddha kepada kita untuk mengatasinya – Pelaksanaannya.

52. Empat Kebenaran Mulia mempunyai ciri-ciri yang khas. Pertama merupakan suatu sistim yang lengkap dari suatu latihan spiritual, berisikan semua yang dibutuhkan untuk kehidupan yang etis, pengertian yang jelas dan pencapai Nibbana. Karena Nibbana adalah tujuan hidup, maka semua aspek kehidupan diperhitungkan untuk usaha itu, dan itulah yang ditunjukkan dalam Jalan Berunsur Delapan. Adalah kenyataan umum pada masa sekarang, bahwa suatu agama turut menerima malah kadang-kadang mengikuti ajaran agama yang lain. Beberapa kaum Kristen liberal misalnya, saat ini setelah melihat nilai-nilai meditasi, juga telah mempraktekkan meditasi. Namun, karena Jalan Berunsur Delapan telah lengkap, Agama Buddha tidak perlu meminjam apapun dari keyakinan lain. Kedua, Jalan Berunsur Delapan adalah satu-satunya praktek keagamaan yang menuju kebebasan Nibbana. Sang Buddha bersabda:

Dari semua jalan, Yang Berunsur Delapan yang terbaik
Dari semua kebenaran, Yang Empat yang terbaik
Dari semua keadaan, bebas dari murka yang terbaik
Dari semua manusia, yang sadar yang terbaik
Inilah Jalan satu-satunya;
Tak ada lain yang bisa menjadikan murni dan sadar.
Jalani Jalan itu,
Dan engkau akan mengatasi Mara.

Jalani Jalan ini,
Dan engkau akan mengakhiri penderitaan.
Saya memaklumatkan Jalan ini,
Ditemukan oleh Saya sendiri.16

Kebanyakan agama tidaklah lengkap, sebab hanya dapat menuntun untuk terlahir kembali di-alam surga para Dewa, yang walau lebih baik dari alam-alam lainnya; namun tetap tidak sebaik dibanding dengan mencapai kebahagiaan tertinggi – Nibbana.

Ciri ke tiga dari Jalan Berunsur Delapan adalah bahwa Jalan itu berlaku selamanya. Selama ribuan tahun Jalan itu mungkin tertutup oleh ketidaktahuan atau ketakhyulan, tetapi karena berlaku selamanya, maka niscaya akan ada seseorang yang menemukannya kembali, berubah pandangan karenanya, dan mengajarkannya kembali demi kebaikan umat manusia. Demikian pula, berabad-abad sebelum ini, Jalan itu telah pernah diketahui tapi lalu terlupakan, lalu diketemukan kembali dan diajarkan oleh Buddha Gotama. Inilah, seperti yang dikatakan Sang Buddha “Jalan lama yang masih tetap berlaku dan akan senantiasa demikian.”

Sama halnya, andaikata ada seorang mengembara didalam hutan, lalu menemukan suatu jalan tua, jalan-setapak tua, dilewati oleh orang-orang di masa-masa sebelumnya, yang bila diikuti terus, akan sampai ke suatu kota kuno, suatu benteng agung kuno yang dihuni oleh orang masa lampau, dengan taman-taman dan hutan-hutannya, dengan penampungan air dan tembok-temboknya suatu tempat yang sangat indah. Lalu, seandainya pengembara itu menyampaikan penemuannya pada raja atau menteri, dengan berkata: “Tuan, ketahuilah, saya telah menemukan suatu kota kuno. Pugarlah tempat itu.” Lalu, seandainya kota kuno itu dipugar, menjadi cerah, berkembang, dihuni, terisi oleh wangsa-wangsa, dan bertumbuh serta bertambah luas. Demikian pula, saya telah melihat Jalan tua itu, Jalan yang telah dilewati para Buddha Tercerahi di masa-masa sebelumnya. Dan Jalan yang manakah itu? Itulah Jalan Berunsur Delapan.17

53. Sang Buddha kadang-kadang menyebut Jalan Berunsur Delapan dengan suatu nama lain, untuk menunjukkan bahwa Jalan itu tidak hanya untuk dilaksanakan untuk mencapai kebebasan Nibbana, namun semangat yang menjiwainya juga harus dijalankan. Beliau menamakannya “Jalan Tengah” (majjhima-patipada) diantara jalan yang ekstrim. Beliau secara rinci menyebut “pemuasan-diri” sebagai ekstrim yang satu, dan “pemusnahan-diri” sebagai ekstrim lainnya, lalu menganjurkan bahwa mereka yang mengikuti Jalan, hendaknya menghindari semua yang ekstrim. Ke-ekstriman adalah perilaku yang ditandai kepercayaan bahwa hanya satu jalan yang paling benar, tanpa toleransi pada pilihan lain dan tidaklah luwes. Ke-ekstriman cenderung menyebabkan seorang agresif dan membutakan diri pada jalan yang lain dalam melaksanakan sesuatu, dan inilah menyebabkannya berbahaya. Seorang Buddhis hendaknya melaksanakan Jalan dengan moderat (mattaññuta), luwes (mudu) dan diserta kemauan untuk mempertimbangkan sudut pandang yang lain. Dalam setiap aspek kehidupan dan pelaksanaannya, seorang Buddhis hendaknya menjadi seorang yang mengambil jalan tengah yang bahagia.

54. Jalan Berunsur Delapan secara tradisional dibagi dalam tiga bagian: Moral/kebajikan (sila), Pemusatan-Pikiran (samadhi) dan Kebijaksanaan (pañña). Pembicaraan Sejati, Tindakan Sejati dan Penghidupan Sejati dikelompokkan dalam Kelompok Moral; Daya-Upaya Sejati, Kesadaran Sejati dan Konsentrasi/Pemusatan Pikiran Sejati dikelompokkan dalam Kelompok Pemusatan-Pikiran; Pengertian Sejati dan Pikiran Sejati dikelompokkan dalam Kelompok Kebijaksanaan. Namun, untuk menekankan beberapa aspek penting yang kadang-kadang diabaikan, maka dalam pembahasan ini, kita akan mengelompokkan ‘Jalan’ dengan cara yang lain. Pengertian Sejati dikelompokkan sebagai Latihan Intelektual/Akal-Budi (Intellectual Training); Pikiran Sejati, Pembicaraan Sejati, Tindakan Sejati dan Penghidupan Sejati dikelompokkan dalam Latihan-Etika (Ethical Training); lalu Daya-upaya Sejati, Kesadaran-Sejati dan Pemusatan-Pikiran Sejati dikelompokkan dalam Latihan Kejiwaan (Psychological Training). Dengan pelaksanaan Latihan Intelektual, dimaksudkan agar kita hendaknya memahami terlebih dahulu secara jelas serta realitas konsep Empat Kebenaran Mulia; lalu kemudian secara bertahap melangkah mewujudkannya dengan mengembangkan langkah-langkah lain dari Jalan. Dengan Latihan Etika, kita menentukan apa yang baik, lalu melaksanakannya, baik pada diri kita pribadi juga pada tindak-tanduk kita dalam bermasyarakat. Dengan Latihan-Kejiwaan, dimaksudkan adalah perubahan batin secara sadar dari yang bersifat keduniawian ke keadaan batin yang murni. Dengan melaksanakan langkah-langkah Jalan Berjalur Delapan dalam kehidupan, maka seseorang menjadi Buddhis, dan dengan menghayati kebenarannya dalam batin, yang dengan sendirinya akan timbul setelah melaksanakannya, seseorang akan dapat mencapai Pencerahan.

Pengembara Nandiya bertanya kepada Sang Buddha: “Keadaan apakah, yang bila dikembangkan dan dilaksanakan akan menuntun ke Nibbana, sasarannya adalah Nibbana, bertitik-puncak di Nibbana?”
“Nandiya, ada Delapan Hal, yang bila dikembangkan dan dilaksanakan, menuntun ke Nibbana, sasarannya adalah Nibbana, bertitik-puncak di Nibbana.”
“Apa yang Delapan itu?”
“Pengertian Sejati, Pikiran Sejati, Pembicaraan Sejati, Tindakan Sejati, Penghidupan Sejati, Daya-upaya Sejati, Kesadaran Sejati dan Pemusatan-pikiran Sejati.”18

JALAN MULIA BERJALUR DELAPAN

Latihan Akal-budi/ Intelektual Pengertian Sejati
Pikiran Sejati
(samma ditthi)
(samma sankappa)
Latihan Etika/Moral Pembicaraan Sejati
Tindakan Sejati
Penghidupan Sejati
(samma vaca)
(samma kammanta)
(samma ajiva)
Latihan Kejiwaan/ Psikologik Daya-upaya Sejati
Kesadaran Sejati
Pemusatan-pikiran Sejati
(samma vayama)
(samma sati)
(samma samadhi)
Advertisements

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

Kelahiran – Kembali   Leave a comment

Kelahiran – Kembali

34. Sering dipertanyakan didalam masyarakat: “Apa yang terjadi sesudah kita mati?” Ada tiga macam jawaban untuk pertanyaan itu. Mereka yang percaya pada adanya “maha-dewa penguasa semesta” akan menjawab, bahwa setelah mati seorang akan pergi ke salah satu, surga kekal atau neraka kekal tergantung pada perbuatan atau agama orang itu. Yang lain mengatakan bahwa bila hidup seseorang berakhir, keberadaannya juga berakhir. Ini adalah kepercayaan “kemusnahan pada kematian”, yang merupakan pandangan materialistik. Sang Buddha berkata setelah kematian, kita akan terlahir pada kehidupan baru, dan bahwa proses mati dan terlahir kembali ini akan berkelanjutan sampai kebebasan Nibbana tercapai.
35. Agama Buddha menganggap kedua pandangan diatas tidak benar dan tidak lengkap. Pandangan pertama ditolak karena tidak masuk-akal, tidak adil dan kejam. Si jahat tidak semestinya dilaknat hukuman-kekal di neraka, juga Si baik tidak semestinya dianugerahi surga-kekal, hanya karena berbuat kejahatan atau kebaikan dibumi selama 60 atau 70 tahun, sepanjang hidupnya sekalipun, masa 60 atau 70 tidak sebanding dengan kekal selama-lamanya. Juga adalah tidak masuk akal, bahwa “maha-dewa yang semestinya maha-pengasih” mencampakkan dan menghukum “ciptaannya” berupa siksaan dan kesakitan selama tak terhitung jutaan tahun. Pandangan diatas juga tidak bisa menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan penting sehubungan dengan itu. Apa yang dialami para binatang setelah mati? Apa yang terjadi pada jutaan bayi yang mati dalam kandungan, pula yang mati segera setelah lahir? Apakah mereka ke surga atau ke neraka? Kalau ke surga, maka jelas tak adil sebab mereka belum pernah berbuat baik, lalu bila dihukum di neraka juga tidak adil karena mereka belum sempat berbuat kejahatan.

Pandangan materialistik, juga tidak dapat menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar. Para kaum materialistik sulit menjawab fenomena kompleks, misalnya bagaimana kesadaran manusia yang timbul setelah pertemuan dua sel kelamin dan perkembangannya selama 9 bulan. Saat ini, setelah Parapsikologi telah diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan, fenomena seperti telepati dan sebagainya, bertambah tidak cocok dengan pandangan kaum materialistik tentang batin manusia. Agama Buddha menawarkan keterangan yang sangat memuaskan tentang dari mana kita datang dan apa yang akan terjadi setelah kita mati.

36. Proses kelahiran kembali, yang disebut punabbhava, secara harfiah berarti ‘menjadi lagi’. Sang Buddha berkata, untuk dapat terlahir kembali, tiga syarat harus dipenuhi: sepasang (calon) orang tua yang subur, hubungan seksual dan adanya gandhabba.1 Istilah ‘gandhabba’ berarti datang dari tempat lain’, mengacu pada suatu arus energi batin yang terdiri dari kecenderungan-kecenderungan, kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri karakteristik yang meninggalkan badan yang telah mati. Ketika badan mati, ‘batin bergerak keatas’ (uddhamgami)2 dan mengembangkan diri lagi pada sel telur (calon) ibu yang baru saja dibuahi. Janin tumbuh, lahir dan berkembang sebagai pribadi baru, dengan diprasyarati, baik oleh karakteristik batin yang terbawa (dari kehidupan lampau) juga oleh lingkungan barunya. Kepribadiannya akan berubah dan bermodifikasi oleh usaha kesadaran, pendidikan, pengaruh orang tua dan lingkungan sosial. Watak menyukai atau tidak menyukai, bakat kemampuan dan sebagainya, yang dikenal sebagai “sifat bawaan” dari setiap individu sebenarnya adalah terbawa dari kehidupan sebelumnya. Dengan kata lain, watak serta apa yang dialami pada kehidupan kita saat sekarang, pada tingkat-tingkat tertentu adalah hasil (vipaka) dari perbuatan (kamma) kehidupan lampau. Perbuatan-perbuatan kita selama hidup, demikian pula, akan menentukan di alam kehidupan mana kita akan dilahirkan.

37. Secara sederhana, untuk dapat mengerti bagaimana ‘batin’ ‘berpindah’ dari satu badan ke badan yang lain, maka kita dapat membandingkannya dengan pancaran siaran radio. Gelombang radio, yang jelas memang tidak terdiri atas musik atau pidato, namun adalah energi pada frekwensi-frekwensi yang berbeda, dipancarkan lewat angkasa, tertarik dan ditangkap oleh pesawat penerima/radio yang kemudian disiarkan sebagai musik atau pidato. Dengan cara yang sama, ‘batin’ meninggalkan badan pada saat kematian, bergerak di angkasa, tertarik dan masuk ke sel telur yang telah dibuahi dan di-’siar’ kan sebagai suatu pribadi baru. Baik gelombang radio maupun ‘batin’ bukanlah benda tapi suatu proses dinamis, dengan demikian tidaklah benar bila dikatakan bahwa “jiwa yang tak berubah” berpindah ke badan baru sebagai halnya musik dan pidato terlepas berpindah ke pesawat pemancar ke radio. Pula, jelas tidak ada ‘keadaan-antara’ (antarabhava), sebab ‘batin’ langsung berpindah dari satu badan ke yang lainnya, seperti halnya gelombang radio langsung ditangkap segera setelah dipancarkan.

38. Apakah ada bukti yang mendukung doktrin kelahiran kembali? Selama berabad-abad, telah banyak orang yang menyatakan dapat mengingat kehidupannya yang lalu, sebelum dilahirkan kembali. Catatan tertua justru dari Eropa, Pythagoras (582-500 SM), filsuf dan ahli matematika Yunani, menyatakan dapat mengingat beberapa kehidupannya yang lalu. Akhir-akhir ini banyak kasus-kasus orang-orang yang dengan jelas dapat mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya pada kehidupannya yang lampau, beberapa dari kasus tersebut telah dibuktikan kebenarannya. Bukti-bukti kelahiran kembali yang paling mengesankan adalah berupa hasil riset dari Ian Stevenson, seorang ilmuwan Amerika. Dr. Stevenson, yang adalah profesor di bidang Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) di Universitas Virginia, memulai risetnya ditahun 1958, dan ternyata kemudian disambut dan dikenal dunia internasional. Selama bertahun-tahun, dia melaporkan secara rinci kasus-kasus orang dewasa maupun anak-anak, yang dapat mengingat kehidupan lalunya-semuanya dilatar-belakangi oleh metoda riset ilmiah secara cermat. Rekan ilmuwannya, Dr. Harold Leif, mengomentari riset Ian Stevenson, sebagai berikut: “Hanya salah satu dari dua kemungkinan, dia membuat satu kesalahan besar atau dia akan dikenal sebagai Galileo-nya abad ke XX.”3

39. Mari kita meninjau satu kasus penelitian Dr. Stevenson, seorang anak bernama Ravi Shankar dilahirkan 1951 di kota Kanaiy, India Utara. Ayahnya bernama Ram Gupta; sejak berumur dua tahun si anak berkeras bahwa ayah sebenarnya adalah seorang bankir bernama Jogeshwar. Dia juga mengatakan bahwa pada kehidupan lalunya dia dibunuh dengan digorok tenggorokannya oleh dua orang – Chaturi dan Jamahar. Sebagai bukti, si anak menunjuk tanda lahir di lehernya, yang memang bertanda-lahir seperti bekas luka potong. Penyelidikan kemudian membuktikan, bahwa ternyata setengah mil dari kediaman mereka, ada seorang bernama Jogeshwar yang mempunyai anak laki-laki bernama Munna yang telah dibunuh, persis seperti yang digambarkan oleh Ravi Shankar. Yang berwajib sejauh ini memang sangat mencurigai dua orang sebagai pembunuhnya, seorang binatu bernama Chaturi dan seorang bankir bernama Jamahar, namun mereka dibebaskan karena kurangnya bukti. Munna dibunuh enam bulan sebelum Ravi lahir. Riset Dr. Stevenson terbukti kebenarannya secara sangat rinci.4 Banyak dari kasus-kasus seperti diatas mempunyai bukti yang sangat kuat, ialah bahwa setelah kematian, seorang akan terlahir kembali dengan ingatan yang jelas pada kejadian yang sangat dramatis pada kehidupan lampaunya. Sebaliknya, sejauh ini, tidak pernah ada bukti-bukti yang dapat mendukung kedua pandangan yang disebutkan sebelumnya diatas (34).

40. Terlepas dari bukti-bukti diatas, doktrin kelahiran kembali amat menarik karena sangat adil. Menurut pandangan agama lain, walau seorang berperilaku baik dalam hidupnya, maka dia tetap dapat saja dihukum selamanya di neraka kekal, karena dianggap memeluk agama yang salah. Ini jelas sangatlah tidak adil. Kamma dan kelahiran kembali berarti orang baik akan terlahir baik, apapun agama yang dianutnya. Pula, orang jahat akan tetap mempertanggung-jawabkan perbuatannya, walaupun dia “insaf” dan mengubah agamanya di menit-menit terakhir kehidupannya. Doktrin kelahiran kembali juga memungkinkan setiap orang untuk senantiasa mempunyai kesempatan lagi. Pandangan agama lain, hanya memberi kesempatan sekali saja. Apa yang dia perbuat dan apa kepercayaannya pada hidupnya yang singkat pada satu kehidupan, menentukan bagaimana dia selamanya secara kekal. Sebaliknya, Sang Buddha menegaskan bahwa bila kita gagal memurnikan diri kita pada kehidupan ini, kita masih dapat melakukannya pada kehidupan akan datang atau yang berikutnya lagi. Kelahiran kembali juga memungkinkan kita untuk senantiasa menyempurnakan keahlian dan minat kita yang telah kita kembangkan pada kehidupan kini, pada kehidupan akan datang. Sang Buddha, malah mengatakan kita dapat saja bertemu, dengan orang yang kita cintai dan sayangi pada kehidupan mendatang, bila kita mempunyai keterikatan yang kuat dengannya.

Perumah tangga Nakulapita dan isterinya Nakulamata mendatangi Sang Buddha; setelah bersimpuh, Nakulapita berkata: “Guru, sejak isteri saya dibawa ke rumah pada saya, ketika itu saya masih seorang anak perjaka, dia masih seorang anak gadis, saya tidak pernah secara sadar menyakitinya baik rohaniah, apalagi jasmaniah. Guru, kami bertekad untuk saling menyayangi, tidak saja pada kehidupan ini, namun juga pada kehidupan mendatang.”

Nakulamata kemudian berkata: “Guru, sejak saya dibawa kerumah suamiku, ketika itu saya masih seorang anak gadis, dia masih seorang anak perjaka, saya tidak pernah secara sadar menyakitinya baik rohaniah, apalagi jasmaniah. Guru, kami bertekad untuk saling menyayangi, tidak saja pada kehidupan ini, namun juga pada kehidupan mendatang.”

Sang Buddha kemudian bersabda: “Apabila suami dan isteri bertekad untuk saling menyayangi pada kehidupan ini dan pada kehidupan mendatang, dan keduanya sepadan dalam keyakinan, sepadan dalam moral, sepadan dalam kemurahan hati dan sepadan dalam kebijaksanaan, maka mereka akan saling menyayangi dalam kehidupan ini, pula pada kehidupan mendatang.5

41. Dengan demikian, secara jujur beralasan bila dikatakan, doktrin kelahiran-kembali lebih dapat diterima, lebih adil dan lebih menarik hati dibanding teori tentang masalah sesudah kematian yang lain. Sekarang, secara mengejutkan doktrin kelahiran-kembali (sering juga disebut reinkarnasi, transmigrasi) makin menarik minat masyarakat. Penarikan pendapat umum (Inggeris: gallup polls) di Inggeris, menunjukkan bahwa mereka yang percaya pada adanya kelahiran-kembali meningkat jumlahnya dari 18% pada tahun 1968 menjadi 28% di tahun 1978, persentasi terbesar dari mereka berumur sekitar 25 sampai 35 tahun. Penelitian yang sama di Amerika menunjukkan bahwa 28% dari bangsa Amerika menerima doktrin tersebut.6 Jumlah para pemikir, filsuf serta ilmuwan yang menerima doktrin kelahiran-kembali meningkat secara sangat mengesankan. Dua filsuf terkenal memberi argumentasi tentang kelahiran-kembali yang masuk-akal dan etis, mereka adalah J.M.E.M. Taggat dan C.J. Duccuas. Thomas Huxley, ilmuwan yang memperkenalkan Sains pada abad ke XIX ke sistim pendidikan di Inggris, yang pula adalah ilmuwan pertama yang mendukung teori Darwin, percaya bahwa kelahiran kembali adalah doktrin yang benar-benar dapat diterima. Dalam bukunya “Evolution and Ethics and other Essays”, dia menulis:

Pada doktrin kelahiran-kembali, baik yang berasal dari pandangan kaum Brahmin ataupun Buddhis, telah siap, semua sarana untuk menyusun pertahanan yang beralasan yang menghubungkan kosmos (alam-semesta) dengan manusia ….. Tapi paham yang adil ini belum lebih diterima dibanding yang lainnya; dan para pemikir yang sembrono secara tak berhati-hati menolaknya serta mencampakkannya sebagai sesuatu yang jelas tak masuk akal. Sama halnya dengan doktrin evolusi, doktrin kelahiran-kembali berakar pada dunia yang nyata; dan mampu mendapatkan dukungan-dukungan seperti argumentasi yang kuat dari persamaan yang dapat memenuhinya.7

Professor Gustaf Stromberg, ahli astronomi Swedia, ahli fisika yang adalah kawan Einstein, juga menyebutkan paham kelahiran-kembali sebagai paham yang sangat memikat hati.

Banyak pendapat yang berbeda, mengenai dapat atau tidaknya jiwa manusia ber-reinkarnasi ke dunia lagi. Pada tahun 1936 suatu kasus yang sangat menarik dilaporkan dan diteliti secara luas oleh mereka yang berwajib di India. Seorang anak gadis (Shanti Devi dari Delhi) secara tepat dapat menggambarkan kehidupan lalunya (di Mattra, lima ratus mil dari Delhi) yang berakhir sekitar setahun sebelum ‘kelahiran-keduanya’. Dia menyebut nama suami dan anaknya serta memberi gambaran mengenai riwayat hidup serta rumahnya yang lalu. Panitia penyelidik membawanya ke rumah keluarganya pada kehidupan sebelumnya, yang ternyata membenarkan segala pernyataannya. Diantara masyarakat India, reinkarnasi adalah dianggap masalah biasa; hal yang mereka anggap luar biasa pada kasus ini adalah sedemikian banyaknya hal yang dapat diingat kembali oleh si gadis ini. Kasus ini dan kasus-kasus yang sama dapat dianggap sebagai bukti tambahan tentang teori kekuatan daya ingat.8

Profesor Julian Huxley, ilmuwan terhormat dari Inggeris, bekas Direktur Jendral UNESCO, percaya bahwa paham kelahiran-kembali seirama dengan jalan pikiran ilmu pengetahuan.

Tidak ada kekuatan yang dapat merintangi terlepasnya ‘roh kehidupan kekal’ makhluk pribadi, pada saat kematiannya, dengan berbagai cara; sama seperti pesan-pesan radio yang terlepas dari pesawat pemancar-radio dengan caranya sendiri pula. Tapi, hendaknya dicamkan bahwa pesan-pesan radio hanya akan berwujud kembali sebagai pesan setelah berkontak dengan struktur materi baru – yakni pesawat penerima-radio. Pada roh kita-keluar darinya. Kemudian ….. tak pernah dapat berpikir atau merasakan lagi, bila tidak kembali ‘berwujud’ dengan cara bagaimanapun. Kepribadian kita sangat didasari oleh jasmani kita, yang dengan sendirinya tidak mungkin hidup dalam makna sebenarnya. Tanpa adanya ‘semacam badan’ …. Saya dapat memikirkan sesuatu yang terlepas, yang sama keadaannya, pada lelaki dan wanita, seperti pesan-pesan radio pada pesawat pemancar; tapi dalam hal ‘kematian’ semestinya, seperti yang dapat dimaklumi oleh siapa saja, yang terjadi adalah gejolak dalam berbagai bentuk yang mengembara, sampai ….. mereka ……. datang kembali dalam wujud kesadaran yang aktual, setelah berkontak dengan sesuatu yang dapat bekerja sebagai ‘pesawat penerima untuk batin’.9

Mereka yang berpikiran praktis dan bersahaja sekalipun seperti Henry Ford, industrialis Amerika, pula dapat menemukan nilai kebenaran dalam paham kelahiran-kembali. Ford tertarik pada masalah kelahiran-kembali, sebab tidak seperti paham agama lain, kelahiran kembali memberi kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri. Henry Ford berkata:

Saya menerima pandangan reinkarnasi sejak saya berumur 26 tahun …. Agama tidak menawarkan apapun dalam satu hal …. Bekerja juga tidak memberi kepuasan yang lengkap. Bekerja adalah hal yang sia-sia, bila kita tidak dapat menerapkan pengalaman yang kita kumpulkan pada satu kehidupan, pada kehidupan berikutnya. Sewaktu saya menemukan paham Reinkarnasi, rasanya seakan saya menemukan suatu rencana alam-semesta. Saya sadar bahwa selalu ada kesempatan untuk melaksanakan ide-ide saya. Waktu bukan lagi suatu yang terbatas. Saya bukan lagi budak dari jarum-jarum jam … Genius adalah suatu pengalaman. Ada pendapat yang menganggap, bahwa itu adalah karunia atau bakat, tapi sebenarnya itu adalah buah dari pengalaman-pengalaman yang panjang dalam beberapa kehidupan. Jiwa-jiwa ada yang lebih matang dari jiwa-jiwa yang lainnya … Dengan mengetahui adanya Reinkarnasi, membawa ketenangan batiniah bagi saya …. Apabila anda merekam percakapan ini, tulislah demikian, bahwa ini memberi ketenangan batiniah. Saya suka berkomunikasi dengan yang lainnya tentang ketenangan yang diberikan oleh pandangan tentang kehidupan yang panjang.10

Dengan demikian ajaran agama Buddha tentang kelahiran-kembali didasari oleh bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya. Akan senantiasa masuk-akal dan selalu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab baik oleh pandangan agama-agama lain maupun pandangan materialistik.

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

K A R M A   Leave a comment

K A R M A

26. Telah disebutkan di depan, bahwa setelah mati, kita akan lahir kembali di salah satu dari enam alam kehidupan. Lalu, keadaan-keadaan bagaimanakah yang mensyaratkan kelahiran di masing-masing alam itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut; marilah kita lihat pandangan agama Buddha tentang penyebab semua keadaan umumnya terjadi. Sebagian masyarakat akan menyandarkan jawaban atas segala keadaan yang terjadi, baik atau buruk, kepada Tuhan. Namun agama Buddha menyangkal ciri ketuhanan seperti itu; lalu bagaimana menerangkan kehidupan alam-semesta yang demikian dinamis, alam-semesta yang selalu penuh pergolakan, interaksi dan kejadian-kejadian? Agama Buddha, seperti halnya ilmu pengetahuan, mengajarkan sebab-musabab yang alami. Menurut agama Buddha, semua fenomena di alam-semesta ini bekerja menurut salah satu dasar lima hukum alam (niyama).1 Hukum-hukum fisika (utu niyama) mengatur keberaturan fisik anorganik, mengatur temperatur didih air, kecepatan cahaya, siklus musim, dan sebagainya. Hukum-hukum biologis (bija niyama) mengatur pertumbuhan, reproduksi, hukum genetika/penurunan sifat dan semua aspek makhluk hidup. Hukum-hukum psikologik (citta niyama) mengatur fungsi-fungsi kesadaran serta fenomena ekstrasensorik seperti telepati, kewaskitaan (Inggeris: clairvoyance) dan sebagainya. Dibawah hukum-hukum semesta (dhamma niyama) bekerja hukum gaya-berat, termodinamik dan segala fenomena semacamnya diseluruh alam-semesta ini. Namun hukum yang sangat menarik adalah hukum karma (kamma niyama). Selama berabad-abad, doktrin agama Buddha tentang karma (Pali: Kamma), telah sering disalah-artikan sebagai paham deterministik/takdir. Saat ini pun, masih sering didengar diantara orang-orang, rohaniawan Buddhis sekalipun, yang mengatakan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak kamma. Karenanya, banyak tafsiran tentang kamma yang agak janggal bila dibandingkan dengan ajaran Sang Buddha sendiri. Hal ini disebabkan karena pada umumnya, doktrin kamma yang diajarkan saat ini tidak berdasarkan ajaran Sang Buddha langsung, tapi berdasarkan kepustakaan komentar, yang sebagian besar diantaranya ditulis ribuan tahun setelah era Sang Buddha. Kita akan mencoba menelusuri doktrin kamma, seperti apa yang digambarkan oleh Sang Buddha dalam bentuk pemahaman moderen yang sederhana.

27. Istilah ‘kamma‘ berarti tindakan (Inggeris: action) serta mengacu pada kehendak (cetana) pikiran, ucapan dan tindakan jasmani kita. Sang Buddha bersabda:

Saya katakan, kehendak adalah kamma, karena didahului oleh kehendak seseorang lalu bertindak dengan jasmani, ucapan dan pikiran.2

Istilah ‘vipaka‘ berarti hasil atau dampak serta mengacu pada hasil tindakan berdasar kehendak kita. Dengan demikian, menolong seseorang (suatu kamma) akan menghasilkan persahabatan baru yang baik (suatu vipaka). Pula sebaliknya, berdusta (suatu kamma) berakibat ketahuan dan oleh karenanya dipermalu dan dimaki (suatu vipaka). Tentunya, kehendak untuk berbuat sesuatu (belum dilaksanakan) berbeda dari bila telah dilaksanakan, walau keduanya akan berdampak, yang pertama (kehendak saja) lebih ringan dari kedua (telah melaksanakannya). Setiap kali kita dengan sengaja berpikir, berkata dan bertindak, maka jelas telah terjadi perubahan pada kesadaran kita. Dengan demikian, tipe manusia bagaimana kita saat ini tergantung dari timbunan perbuatan yang telah dilakukan masa-masa sebelumnya, demikian pula apa yang kita lakukan sekarang akan membentuk watak kita di hari kemudian.

Kita adalah apa yang telah kita perbuat.
Apa yang akan kita perbuat adalah demikian kita akan jadinya.

Watak kita saat ini dibentuk dan dipengaruhi oleh hubungan kita dengan sesama kita, reaksi kita pada berbagai situasi, yang kemudian pada gilirannya menentukan berbahagia atau tidaknya kita sendiri. Sang Buddha mengatakan, sebagai berikut:

Semua makhluk adalah pemilik kamma-nya sendiri, pewaris kamma-nya, kamma-nya adalah kandungan yang melahirkannya, dengan kamma-nya dia berhubungan, kamma-nya adalah pelindungnya. Apapun kamma-nya, baik atau buruk, mereka akan mewarisinya.3

28. Dengan demikian adalah penting untuk membedakan pengerttian antara faktor-faktor penentu (Inggeris: determining factors) dari faktor-faktor prasyarat (Inggeris: conditioning factors). Bila dikatakan, bahwa keadaan kita kini hanya ditentukan oleh tindak-tanduk kita sebelumnya dan keadaan masa mendatang ditentukan hanya oleh tindak-tanduk saat ini, berarti seluruh kehidupan telah diputuskan dan ditentukan sebelumnya; kita tidak bebas lagi untuk berprakarsa dan merubah segalanya. Namun, kamma tidaklah memutuskan keberadaan kita. Tindak-tanduk kita masa lampau turut menentukan saat sekarang, lalu tindak-tanduk saat sekarang turut menentukan masa depan, dengan kata lain tindak-tanduk mempengaruhi dalam derajat yang besar atau kecil. Dengan demikian masih ada kesempatan untuk melatih kemauan dan berusaha berubah. Hukum kamma, dengan demikian, lebih berarti suatu kecenderungan, bukan sekadar suatu konsekwensi yang tak dapat diubah dan dielakkan. Ajaran Buddha tidak mengajarkan paham “takdir” (niyativada), juga tidak mengajarkan paham “bebas kehendak” (attakiriyavada), tapi suatu ‘kehendak-berprasyarat’ (Inggeris: conditioned).

Hukum kamma turut (menjadi prasyarat) dalam menentukan tiga hal apakah kita terlahir kembali atau tidak, di alam mana kita akan terlahir, dan pengalaman bagaimana yang akan dialami di kehidupan yang akan datang tersebut. Kita akan menelusurinya satu persatu.

29. Menurut Sang Buddha, tindak-tanduk manusia-biasa pada dasarnya bercirikan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kegelapan-batin (moha), atau seperti sering disebutkan oleh Sang Buddha, semuanya berakar pada ketidaktahuan (avijja) dan keinginan-rendah (tanha). Tindakan baik pun bila dijejaki kadang-kadang masih terwarnai oleh kekotoran batin tersebut. Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin mendasari tindakan kita sehari-hari, tapi tidak semua tindakan itu akan berbuah akibat pada kehidupan sekarang ini; daya/energi yang tidak berbuah pada kehidupan sekarang ini akan mendorong kita ke kehidupan baru sesudah kita mati. Sebagai analogi sehari-hari, mobil bergerak karena adanya mesin, bila mesin tiba-tiba terhenti, energi sisa tetap akan mendorong mobil sebentar, sampai mesin dapat dihidupkan kembali. Sang Buddha berkata:

Ada tiga sumber asal dari tindakan seseorang. Apa yang tiga itu? Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Setiap tindakan yang dilahirkan, berasal dan timbul dari keserakahan, kebencian dan kegelapan batin akan berbuah, dimanapun dia terlahir kembali; dimanapun tindakan itu berbuah, dia akan mengalami hasilnya, pada kehidupan ini ataupun dikehidupan mendatang.4

Selama kita bertindak dengan didasari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin, selama itu pula kita membuat kamma, baik ataupun buruk, dan oleh karenanya kita terlahir kembali. Dengan tercapainya Pencerahan; keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin telah terkikis habis, dan dengan sendirinya walau kita tetap bertindak, kita tidak menghasilkan kamma baru lagi, dan setelah kematian kita tidak akan terlahir kembali.

30. Lebih lanjut Sang Buddha bersabda:

Ada tiga sumber asal dari tindakan seseorang. Apa yang tiga itu? Bebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin. Setiap tindakan yang dilahirkan, berasal dan timbul dari keadaan terbebas dari keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin oleh karena keserakahan, kebencian dan kegelapan-batin tiada lagi kamma terhenti, terpotong pada akarnya, seperti sisa potongan pohon palma yang tak dapat tumbuh lagi di kemudian hari.5

Kamma yang menyebabkan kita terlahir lagi, dan bila terlahir kembali, akan terlahir di salah satu dari enam alam-kehidupan. Kamma yang telah kita timbun akan menjadi prasyarat di alam mana kita akan terlahir. Semua tindakan yang dilakukan dengan sengaja mempunyai sisi etis, yang dikelompokkan atas empat tipe oleh Sang Buddha. Beliau bersabda:

Ada empat macam kamma, yang saya telah terawangi melalui kebijaksanaan-Ku dan kupermaklumkan pada dunia. Apa yang empat itu? Yakni kamma gelap berbuah gelap, kamma terang berbuah terang, kamma terang dan gelap berbuah terang dan gelap, kamma yang tidak terang pula tidak gelap berbuah tidak terang pula tidak gelap.6

“Kamma gelap” mengacu pada perilaku yang didasari keserakahan, kemarahan, ketaksabaran dan keadaan batin negatif lainnya, kesemuanya akan berbuah kegelisahan dan kesusahan, yang disebut Sang Buddha sebagai “berbuah gelap”. “Kamma terang” mengacu pada perilaku yang didasari pada keadaan batin yang positif, seperti kebajikan, kemurahan-hati dan kejujuran, akan berbuah ketenangan dan kebahagiaan atau “berbuah terang”. “Kamma terang dan gelap” mengacu pada perilaku yang didorong oleh campuran oleh kehendak positif dan kehendak negatif, dan oleh karenanya berdampak campuran pula. “Kamma yang tidak terang, tidak pula gelap” mengacu pada perilaku yang netral, yang kemudian berbuah netral pula. Apabila kamma tertentu menonjol dalam perilaku kita sehari-hari, kita akan tertarik, pada waktu mati, kepada salah satu dari enam alam-kehidupan diatas. Sang Buddha bersabda:

Dan apa beragam kamma itu? Adalah kamma yang akan berbuah di alam-neraka, di alam-binatang, di alam roh-lapar, di alam manusia, pula ada kamma yang berbuah di alam dewa.7

Manusia yang kejam, ganas dan penuh kebencian, dapat terlahir di alam neraka atau terlahir sebagai manusia dengan kesengsaraan seumur hidupnya. Manusia yang tujuan hidupnya hanya makan, pemuasan seks dan kesenangan duniawi serta tidak berusaha mengembangkan kecerdasan dan kebajikan, dapat terlahir sebagai binatang atau manusia yang akan mengalami kehidupan yang penuh kemalangan. Manusia yang berambisi buruk, tak pernah terpuaskan, serta terikat pada seks, alkohol dan ganja akan cenderung terlahir sebagai Roh-lapar, atau sebagai manusia yang tersiksa oleh ketidak-puasan; sedangkan mereka yang hidupnya senantiasa dipenuhi oleh rasa cemburu, dan iri-hati akan terlahir di alam Roh-cemburu atau sebagai manusia yang terikat dan tersiksa pada kecemburuannya. Mereka yang senantiasa berbahagia, tak berbuat buruk dan senantiasa mencintai mereka yang lain, akan terlahir sebagai dewa atau manusia yang senantiasa bergembira dan bahagia.

31. Namun tentunya; kita tidak akan terlahir di Alam Neraka disebabkan hanya karena berbohong sekali ataupun beberapa kali; pula kita tidak akan terlahir di Alam Surga disebabkan karena bermurah hati dari waktu ke waktu. Sang Buddha menjelaskan bahwa, perilaku tertentu yang berpengaruh kuat, menjadi kebiasaan dan menonjol di batin seseorang (atau seperti yang Beliau katakan tindakan yang “terbiasa, terikat dan sering dilaksanakan”8) yang akan menentukan kelahiran di alam-alam yang lebih rendah atau di alam-alam yang lebih tinggi. Kebanyakan manusia adalah tipe rata-rata, yakni jarang berperilaku sangat baik juga jarang berperilaku sangat buruk, lalu sisa waktu diisi dengan perilaku yang sedikit baik dan sedikit buruk, mereka ini kemungkinan juga akan terlahir sebagai manusia rata-rata pada umumnya dan akan mengalami hal yang biasa-biasa pula dalam kehidupannya. Namun, seseorang melaksanakan Dhamma secara tulus dan benar, maka besar kemungkinan baginya untuk terlahir di Alam Surga atau sebagai manusia dengan lingkungan yang baik.

32. Hal ke tiga yang turut ditentukan oleh hukum kamma adalah pengalaman yang akan dialami selama hidup kita. Sering dikatakan, bahwa apa yang dialami pada kehidupan setiap orang saat ini adalah hasil dari apa yang diperbuatnya di kehidupan sebelumnya, pula apa yang diperbuat pada kehidupan sekarang akan berbuah pada kehidupan yang akan datang. Pengertian tersebut, yakni bahwa semua yang dilakukan akan berbuah pada salah satu kehidupan mendatang (tidak pada kehidupan saat ini), ternyata salah. Sang Buddha berkata:

Hasil dari suatu kamma ada tiga macam. Apa yang tiga itu? Yang berbuah pada kehidupan sekarang, yang berbuah pada kehidupan berikut, dan yang berbuah pada kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.9

Seperti kenyataan yang kita alami sehari-hari, malah banyak perbuatan membawa akibat seketika atau segera. Tidak selamanya harus menunggu sampai kehidupan yang akan datang.

Salah pengertian lain tentang kamma, ialah anggapan bahwa setiap perbuatan pasti berakibat; tindakan negatif, misalnya, pasti tak terelakkan berbuah negatif. Walau Sang Sang Buddha seringkali memberi kesan seperti itu, namun Beliau juga menjelaskan bahwa akibat dari setiap perbuatan bukanlah tak terelakkan seperti itu. Beliau berkata:

Bila seseorang berkata, bahwa hanya apa yang diperbuat itulah yang diperolehnya, maka bila hal itu benar, maka menuntut kehidupan suci tidaklah berarti – sebab tak ada kesempatan untuk mengatasi penderitaan. Tapi bila seorang berkata, bahwa bila seorang berbuat demi apa yang akan diperolehnya, lalu itulah yang diperolehnya, maka menuntut kehidupan suci adalah berarti ada kesempatan untuk menghancurkan penderitaan. Contohnya, suatu kejahatan kecil dilakukan seseorang, tindakan itu bisa berbuah pada kehidupan ini atau sama sekali tidak berbuah. Sekarang, manusia yang bagaimana, yang walau dengan kejahatan kecil sekalipun tetap akan membawanya ke neraka? Seorang yang tidak berhati-hati dalam mengembangkan tindakan jasmani, pikiran dan ucapannya. Dia tidak mengembangkan kebijaksanaan, dia seorang yang tidak berarti, dia tidak mengembangkan dirinya sendiri, hidupnya sempit dan dapat diukur. Perbuatan kecil saja dapat membawanya ke neraka. Lalu sekarang, seorang yang dengan hati-hati mengembangkan tindakan jasmani, pikiran dan ucapannya. Dia mengembangkan kebijaksanaan, dia seorang yang berarti, dia mengembangkan dirinya sendiri, hidup tanpa batas dan tidak terukur. Bagi orang seperti ini, sebuah kejahatan kecil bisa berbuah dikehidupan ini atau tidak sama sekali. Seandainya seorang menaruh sejumput garam kedalam sebuah cawan kecil. Air tersebut tidak akan bisa diminum. Mengapa? Karena cawan itu kecil. Nah, sekarang seandainya seorang menaruh sejumput garam ke sungai Gangga. Airnya akan tetap dapat diminum. Karena banyaknya air di sungai tersebut.10

Jadi jelas, pada seorang yang watak baiknya menonjol, maka perbuatan buruk kecil yang dilakukannya hanya akan berbuah akibat yang tak berarti atau mungkin sama sekali tidak berbuah; sebaliknya pada seorang yang selama hidupnya ternodai oleh perbuatan buruk, maka perbuatan baik kecil yang dilakukannya akan terselubungi. Pula, buah dari suatu perbuatan bisa saja tidak jadi masak dan berbuah, karena terhapus atau terlarut oleh perbuatan yang lain. Sebagai contoh, seorang mencuri sesuatu, namun kemudian menyadari kekeliruannya. Dia mengembalikan barang tersebut, lalu berusaha berbuat baik dan berjanji tidak akan berbuat demikian lagi di kemudian hari. Pada keadaan seperti ini, buah hasil dari perbuatan buruk (mencuri) tersebut terhapus oleh perbuatan baiknya yang belakangan (insaf dan mengembalikan barang tersebut). Seperti disebutkan sebelumnya, hukum kamma adalah sesuatu yang menyangkut kecenderungan, bukan suatu konsekwensi yang tak dapat dirubah serta tak dapat dielakkan.

33. Namun salah pengertian yang paling umum tentang hukum kamma adalah kepercayaan bahwa setiap kejadian yang kita alami; tersandung, jatuh sakit, menang undian, terlahir tampan, semuanya adalah hasil kamma lampau semata-mata. Dengan alasan yang sangat tepat Sang Buddha menolak kepercayaan salah tersebut. Sebab bila demikian halnya, maka sia-sia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela, sebab keseluruhan hidup ditentukan sebelumnya. Sang Buddha bersabda:

Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmin, yang mempercayai dan mengajarkan bahwa apapun yang dialami seseorang, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semua disebabkan oleh kamma lampau. Saya menemui mereka dan bertanya apakah benar mereka mengajarkan sedemikian, mereka ternyata mengiyakan, saya berkata: “Bila demikian, tuan yang terhormat, seseorang membunuh, mencuri dan berzina disebabkan kamma lampau, mereka berbohong, berfitnah, berkata kasar dan tak berharga disebabkan kamma lampau. Mereka menjadi serakah, membenci dan penuh pandangan salah disebabkan kamma lampau.” Mereka yang mendasarkan segala sesuatu pada kamma lampau sebagai unsur penentu akan kehilangan keinginan dan usaha untuk berbuat ini atau tak berbuat itu.11

Berdasarkan pengetahuan bahwa ada lima hukum yang mengatur semesta (26), jelas bahwa kamma hanyalah salah satu dari beberapa penyebab yang menjadikan kita. Terlahir cantik, jelek, utuh atau cacat mungkin disebabkan oleh turunan (hukum Biologis), bukan semata-mata oleh perbuatan yang baik atau buruk di masa lampau. Cerdas atau bodoh mungkin disebabkan karena keadaan sosial dan pengaruh orang-tua (hukum Fisika dan hukum Psikologik), bukan semata-mata oleh perbuatan baik atau buruk. Mati muda atau berumur panjang mungkin karena gabungan antara masalah gisi (hukum Biologis), lingkungan yang sehat (hukum Fisika) dan mungkin pula sikap dan pandangan hidup (hukum Psikologik), bukan semata-mata karena perbuatan yang baik atau buruk di masa lampau. Menghubungkan semua yang terjadi pada kita (baik ataupun buruk) sebagai melulu akibat perbuatan masa lampau, menurut Sang Buddha, berarti menutup mata pada kaidah sebab dan akibat yang telah dibenarkan oleh pengalaman kita sendiri. Beliau bersabda:

Sehubungan dengan itu, ada penderitaan yang ditimbulkan oleh empedu, oleh lendir, dari udara, oleh kecelakaan, oleh keadaan yang tak dapat diketahui sebelumnya, dan juga oleh hasil perbuatan lampau seperti diketahui dari pengalamanmu sendiri. Dan kenyataan bahwa penderitaan timbul dari berbagai penyebab telah diketahui dunia sebagai suatu kebenaran. Oleh karenanya pertapa dan kaum Brahmin yang berkata: “Apapun kesenangan atau penderitaan atau keadaan batin yang dialami seseorang, kesemuanya disebabkan karena masa lampau,” maka pernyataan mereka bertentangan dengan pengalaman setiap orang yang telah diakui kebenarannya oleh dunia. Oleh karenanya, Saya katakan, bahwa mereka itu salah.12

Sang Buddha mengajar kita hukum kamma, oleh karenanya kita dapat memaklumi keadaan seperti sekarang ini, oleh karenanya kita dapat merubah diri sendiri, dan oleh karenanya kita dapat menciptakan prasyarat-prasyarat yang membantu pencapaian Nibbana.

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

KEHIDUPAN DAN ALAM KEHIDUPAN   Leave a comment

KEHIDUPAN DAN ALAM KEHIDUPAN

8. Bagaimana dan kapan kehidupan bermula adalah misteri dan mungkin akan tetap demikian. Kebanyakan agama-agama menyatakan bahwa Tuhan mereka masing-masing yang menciptakan kehidupan. Namun pernyataan demikian belum tentu dapat menjawab bagaimana kehidupan dimulai, sebab bila Tuhan adalah makhluk-hidup, maka dengan demikian harus sejalan dengan pemahaman, bahwa ‘hidup berasal dari hidup’. Dan, dalam hal ini belum dapat diterangkan bagaimana kehidupan Tuhan (sebagai suatu pribadi) dimulai. Terpisah dari legenda-legenda, maka selama ini, ada dua teori ilmiah yang mencoba menerangkan bagaimana kehidupan bermula di dunia ini. Pertama, adalah Hipotesa Haldane-Oparin, yang dinamai sesuai nama dua sarjana yang pertama yang mengemukakan bahwa bahan organik berasal dari bahan anorganik.1 Menurut hipotesa mereka, pada zaman lampau, campuran dari gas anorganik yang sederhana larut dalam laut, lalu dengan energi matahari membentuk molekul prasejarah yang pertama; molekul ini kemudian merupakan prasyarat bermulanya kehidupan. Hipotesa ini adalah yang paling diterima dalam menerangkan asal kehidupan. Kemudian, baru-baru ini, Sir Fred Hoyle dan Professor Chandra Wickramasinghe menyajikan hipotesa yang sangat berbeda.2 Mereka mengatakan bahwa bentuk kehidupan yang sederhana ber-evolusi di angkasa luar lalu terbawa ke bumi oleh meteor-meteor dan ekor komet yang sedang melintas. Namun, cara bagaimanapun kehidupan dimulai, pada kenyataannya telah pernah ditemukan bukti-bukti berupa fosil berbentuk batang yang menyerupai ganggang dan bakteri primitif kita saat ini, yang telah ada sejak 2,7 milyar tahun lalu. Hampir semua ahli sependapat bahwa bentuk kehidupan awal berkembang dipermukaan laut.
9. Agama Buddha mengajarkan, asal kehidupan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Walau demikian, Sang Buddha juga memberi gambaran bagaimana kehidupan berawal di bumi. Beliau menjelaskan, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang telah ada barulah alam surga (alam-dewa).
Dan demikian mereka hidup, terdiri dari batin saja, senantiasa berbahagia, badannya mengeluarkan cahaya, bergerak di angkasa dengan jayanya, dan bertahan begitu sampai masa yang sangat lama sekali. Pada waktu itu bumi hanya terdiri dari massa air semata dan semuanya gelap kelam. Tidak ada bulan atau matahari, belum ada tata-surya, bintang belum terlihat, belum ada perhitungan waktu bulan, pertengahan-bulan, tahun atau musim, belum ada laki-laki dan wanita, hanya makhluk itu saja yang ada. Lalu setelah jarak waktu yang sangat lama, buih-buih yang menggiurkan terbentuk diatas permukaan massa air dimana makhluk-makhluk itu berada. Bentuknya seperti lapisan yang terbentuk diatas susu panas yang mendingin. Warnanya seperti dadih-susu (susu yang mengental) atau mentega, dan rasanya seperti madu murni. Lalu, beberapa makhluk yang bersifat rakus berkata: “Saya berkata, apa yang seperti ini !, lalu mencoba buih itu dengan jarinya. Ketika ia melakukannya, dia menyukainya, dan keinginan timbul diantara mereka. Jadi mereka mulai berpencar memakannya. Setelah itu, cahaya badannya menghilang; lalu bulan dan matahari, siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, tahun dan musim, terjadi.3
Sang Buddha menerangkan lebih lanjut, bahwa badan makhluk itu bertambah nyata setiap mereka makan, lalu timbul ciri-ciri seksual. Mengenai perubahan tersebut, Beliau berkata, berlangsung “pada kurun waktu yang sangat, sangat panjang”.4 Saat ini, setiap ilmuwan pun, tak dapat tidak sependapat bahwa semua yang dijelaskan Sang Buddha adalah sama dengan temuan ilmiah tentang asal tata-surya tersebut. Temuan ilmiah dan Sang Buddha, keduanya sependapat, bahwa permukaan bumi pada masa awalnya tertutup oleh air. Pula, keduanya sependapat bahwa kehidupan pertama mengambang diatas permukaan air, dimana mereka menyerap sari makanan. Keduanya juga sependapat, bahwa bentuk kehidupan awal adalah aseksual (tak berjenis kelamin), pula keduanya sependapat bahwa bentuk kehidupan ber-evolusi, dari bentuk yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dan bahwa proses itu berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.

10. Ilmu pengetahuan membagi kehidupan menurut susunan tubuhnya, sedangkan Sang Buddha membaginya menurut apa yang dialaminya. Sang Buddha mengatakan ada enam alam kehidupan, berbeda satu dari lainnya dalam hal apa yang dialami dalam alam kehidupannya masing-masing. Ada Alam Dewa, Alam Manusia, Alam Binatang, Alam Roh Lapar, Alam Roh Cemburu, Alam Neraka. Marilah kita menelitinya satu demi satu.

11. Para dewa, yang dalam bahasa Inggeris sering disebut sebagai “gods”, dan alam dimana mereka berada sering disebut sebagai “heaven” (surga), namun kedua istilah itu tidak tepat untuk mengungkapkan konsep tentang dewa, Kata “God” (Tuhan) adalah konsep ketuhanan yang menyangkut cinta-kasih, menyangkut kekuatan untuk mencipta dan mengendalikan segalanya, yang sama sekali berbeda dibanding manusia. Kata “surga” menyangkut konsep ketuhanan dari kehidupan kekal sesudah kematian, dimana tidak ada yang berbuat kesalahan seperti kehidupan dibumi. Pada kenyataannya, para dewa tidaklah sempurna dan pula tidak kekal, bila masa kehidupannya usia mereka bisa terlahir kembali sebagai manusia, demikian pula sebaliknya manusia bisa terlahir kembali sebagai dewa. Ciri utama dari kehidupan dewa, adalah bahwa para dewa mengalami lebih banyak kebahagiaan.

Pula, surga tempatnya tidaklah mesti selalu terpisah dari alam kehidupan lainnya; surga tidak “di atas sana”, pula neraka tidak “di bawah sana”. Satu dewa bisa saja berada disamping satu manusia ataupun disamping satu roh-lapar. Yang membuat mereka terpisah atau berbeda, adalah pada keadaan yang dialaminya, bukan pada tempat dimana mereka masing-masing berada. Karena dewa-dewa mungkin saja adalah manusia-manusia sebelum mereka terlahir di Alam Dewa, maka mereka senantiasa masih tertarik pada apa yang dikerjakan manusia. Mereka bisa menjawab doa seseorang, melindungi orang tertentu dari mara bahaya, namun bisa menyebabkan kesulitan-kesulitan diantara manusia.

12. Setelah pembicaraan tentang perbedaan antara dewa dan “gods”, kita sampai pada yang diajarkan oleh Sang Buddha tentang konsep “penciptaan” alam-semesta oleh suatu “maha-dewa” atau makhluk tertentu. Keberadaan makhluk seperti itu dibantah oleh Sang Buddha, sebab menurut Beliau, pemahaman seperti itu adalah tidak masuk akal, tanpa pembuktian yang mendukungnya. Ada beberapa argumentasi yang mencoba membuktikan adanya “maha-dewa” pencipta, namun Buddha Dhamma malah membuktikan bahwa tidak satupun argumentasi itu memuaskan. Argumentasi pertama mengatakan seperti ini: “Segala sesuatu mempunyai kausa (sebab), oleh karenanya selayaknya ada kausa pertama, dan bahwa kausa pertama itulah “maha-dewa” itu. Ada beberapa alasan penolakan pada argumentasi ini. Pertama, ialah bahwa argumentasi diatas justru bertolak belakang dengan pernyataan/argumentasi itu sendiri. Oleh karena, segala sesuatu mempunyai kausa, maka kausa pertama seharusnya mempunyai kausa juga. Kedua, tidak ada alasan yang masuk akal, bahwa segala sesuatu harus mempunyai satu kausa tunggal. Semua benda pada dasarnya terbentuk dari beberapa kausa, dengan demikian adalah sangat makul kalau dikatakan bahwa sesuatu hal memiliki sepuluh, ratusan atau bahkan ribuan kausa. Ketiga, walau ada kausa pertama yang tunggal, namun tidak terbukti bahwa itu adalah suatu “maha-dewa”. Banyak kemungkinan untuk itu. Lalu ke-empat, adalah secara makul tidak mungkin ada kausa pertama atau asal dari alam-semesta. Suatu permulaan, adalah suatu kejadian, dan sama halnya dengan kejadian-kejadian pada umumnya, permulaan adalah suatu perlangsungan, yang tentunya pasti mengambil masa atau waktu untuk perlangsungannya. Waktu terdiri atas lampau, sekarang dan akan datang. Oleh karenanya pada setiap kejadian yang berlangsung, ada waktu sebelum terjadi (waktu lampau), waktu ketika terjadi (sekarang) dan waktu sesudah terjadi (waktu akan datang). Sebelum dari apa yang disebut “penciptaan oleh maha-dewa”, dengan sendirinya tidak ada waktu (karena segala sesuatu belum ada). Lalu, jelas tidaklah mungkin bahwa sesuatu “tanpa-waktu” menghasilkan waktu, sama tidak mungkinnya gelap menghasilkan terang, atau kering dapat menimbulkan basah.

13. Argumentasi lain, mengenai keberadaan “maha-dewa” tersebut, adalah sebagai berikut: dikatakan “Segala sesuatu secara alami mempunyai tujuan dan aturan. Tidak terjadi secara kebetulan, namun dirancang. Apabila alam adalah rancangan, maka harus ada perancang, lalu perancang itu seharusnya “maha-dewa” tersebut”. Ada beberapa alasan penolakan pada argumentasi diatas. Pertama, walau misalnya diakui bahwa alam ini dirancang, namun tidak terbukti bahwa perancangnya adalah “maha-dewa” tersebut, juga tidak terbukti bahwa perancangnya adalah tunggal. Pada kenyataannya, alam demikian rumit serta kompleks, wajar bila memerlukan banyak perancang. Jadi, bila segala sesuatu dirancang, maka perlu ada beberapa “pencipta”. Kedua, walau misalnya alam ini dirancang, maka ternyata tampak aspek kekejaman dalam rancangannya. Sebagai contoh, kuman tuberkulosa dirancang untuk menggerogoti paru-paru manusia. Mulut belut laut dirancang untuk mencengkram tubuh ikan mangsanya untuk kemudian pelan-pelan dimakan hidup-hidup penuh rasa sakit. Kuman kusta dirancang untuk menggerogoti daging manusia sehingga anggota badan rusak. Dengan demikian, walau, misalnya alam dirancang, kenyataan bahwa justru banyak rancangan menyebabkan penderitaan menyimpulkan bahwa Yang-Esa yang maha-pengasih tidak pernah menciptakannya sedemikian rupa. Ke-tiga, walau misalnya alam ini dirancang, banyak dari rancangan itu justru salah. Bila “maha-dewa sempurna” itu merancang, maka ciptaannya seharusnya sempurna pula. Kenyataannya hujan memang mengairi persawahan, tapi kadang-kadang hujan tidak datang, menyebabkan berjuta orang meninggal karena kelaparan, atau hujan terlampau banyak, menyebabkan ribuan orang kehilangan rumahnya atau hidupnya karena banjir. Setiap tahun jutaan bayi dilahirkan cacat mental atau badaniah yang sangat mengerikan. Produksi sel tubuh, kadang-kadang salah, menyebabkan tumor dan kanker. Kenyataan, bahwa perancangan alam tidaklah sempurna meng-indikasikan bahwa “maha-dewa”, pencipta yang seharusnya sempurna bukanlah perancangnya.

14. Agama Buddha juga masih memiliki beberapa argumentasi kuat untuk menganggap “maha-dewa” itu, tidaklah maha-tahu, maha-kuasa serta maha-pengasih. Argumentasi pertama adalah, apabila “maha-dewa” itu maha-tahu, maka “maha-dewa” itu pasti mengetahui semua masa lalu, mengetahui semua masa sekarang dan mengetahui semua masa yang akan datang. Dengan demikian seharusnya “maha-dewa” itu pasti mengetahui pilihan yang dijatuhkan seseorang, pikiran yang dipunyai seseorang, tindakan yang akan dilakukan seseorang, jauh sebelum dilaksanakan oleh orang itu. Jadi, dengan demikian setiap manusia seharusnya hanya dapat bertindak sesuai apa yang telah “maha-dewa” ramalkan sebelumnya; seluruh kehidupan setiap orang telah dipastikan dan telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, berdasar pada pemahaman “maha-dewa maha-tahu” itu tidak mungkin lagi ada kebebasan keinginan lagi; lalu bila tidak ada kebebasan keinginan, seseorang tidak seharusnya bertanggung jawab pada setiap tindakannya, pula ide untuk berbuat kebajikan dan menghindari kejahatan, tidak berarti lagi.
Sehubungan dengan itu, argumentasi lain, adalah sebagai berikut:
Bila “maha-dewa” adalah pencipta dan pengendali segalanya, maka tiada gunanya manusia berbuat apapun, sebab manusia bagaikan wayang-kulit dari kehendak “maha-dewa” sebagai dalangnya, dan dengan sendirinya “maha-dewa” itulah penanggung jawab dari semua tindakan manusia yang tidak terpuji. Sang Buddha menyatakan argumentasi-nya sebagai berikut:

Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmana yang percaya dan mengajarkan, bahwa apapun yang dialami manusia, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semuanya disebabkan oleh keinginan “maha-dewa”. Saya menemui dan bertanya pada mereka, apakah benar mereka mengajarkan demikian, mereka ternyata mengiyakan, lalu saya berkata: “Apabila demikian, tuan yang terhormat, mereka yang membunuh, mencuri dan berzina pula atas kehendak “maha-dewa” tersebut. Mereka harus berbohong, berfitnah dan berkata kasar serta bergunjing, disebabkan karena kemauan-nya. Mereka harus menjadi serakah, pembenci dan berpandangan salah karena kemauan “maha-dewa” tersebut”. Mereka menyandarkan semuanya sebagai keputusan “sang maha-dewa” akan kehilangan gairah keinginan dan daya-upaya untuk berbuat ini atau tidak berbuat itu.5

Pujangga Buddhis, Santideva, menyatakan dengan sederhana: “Bila “maha-dewa” lah penyebab semua kejadian, lalu apa gunanya manusia berusaha sekuat tenaga?”6.

15. Argumentasi lain mengenai konsep “maha-dewa”, sebagai berikut: keberadaan kejahatan dan penderitaan didunia adalah bukti bahwa “maha-dewa” yang maha-kasih, maha-kuasa tidaklah ada, sebab bila ada tentunya “maha-dewa” sedemikian itu bisa menghentikan segala kejahatan, bencana dan penderitaan. Seorang manusia sederhana sekalipun akan berbuat apa saja agar terbebas dari sakit, kelaparan dan ketakutan apabila mereka berdaya untuk itu; lalu mengapa “maha-dewa” yang lebih sempurna dan maha-kuasa itu tidak bertindak? Ada pula pendapat yang mengatakan, bahwa penderitaan adalah hukuman “maha-dewa” bagi yang berbuat kejahatan. Tapi bukankah orang yang baik juga ditimpa bencana, sakit, kematian mendadak, sebaliknya penjahat juga ada yang sukses, sehat dan bahagia. Lalu, apa pula yang mengatakan bahwa semua penderitaan manusia disebabkan oleh dosa. Walau manusia memang harus bertanggung jawab dalam bentuk penderitaan, namun tetap mereka tidak dapat dipersalahkan untuk beberapa macam penderitaan seperti kanker, gempa bumi, paceklik, kekeringan dan juga terlahir cacat. Satu lagi, juga ada pendapat bahwa kejahatan dan penderitaan disebabkan oleh para iblis. Tetap, tak dapat diterangkan mengapa “maha-dewa pengasih” tidak dapat menyelamatkan orang-orang tak berdosa. Mengapa “maha-dewa pengasih” membiarkan penderitaan terjadi? Oleh karenanya, adanya penderitaan yang mengerikan dan tanpa tujuan itu merupakan bukti tidak adanya “maha-dewa maha-pengasih” tersebut.

Sang Buddha bersabda:

Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan;
Mengapa “maha-dewa” itu tidak menciptakan secara baik?
Bila kekuatannya demikian tak terbatas,
Mengapa tangannya begitu jarang memberkati,
Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata?
Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela.
Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal.
Saya menganggap, “maha-dewa” adalah ketak-adilan.
Yang membuat dunia yang diatur keliru.7

16. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hanyalah kepercayaan pada “maha-dewa yang bercirikan sifat seperti diatas” yang dapat menjamin kebahagiaan serta membuat hidup berarti atau hanya dengan keyakinan seperti itu kita dapat mengatasi masalah kita sendiri. Namun, jutaan manusia yang juga berbahagia, produktif dan bermoral dalam hidupnya tanpa harus menyandang konsep tentang adanya “maha-dewa” berciri sedemikian. Mereka juga berhasil mengatasi kecacatan, ketidak-mampuan dan kekerasan hidup melalui kekuatan dan ketetapan hati mereka sendiri, tanpa bersandar pada kekuasaan “maha-dewa” tersebut. Apabila manusia bermoral, bahagia dan berkasih-sayang pada sesamanya serta mempunyai tujuan hidup, maka kepercayaan sedemikian diatas kiranya tidaklah diperlukan. Namun, adalah penting diketahui bahwa untuk orang tertentu kepercayaan pada bentuk-bentuk atau ciri-ciri “maha-dewa” sedemikian diatas adalah berarti dan penting untuk hidupnya. Oleh karenanya, walau tidak menganut paham sedemikian bagi dirinya sendiri, seorang umat Buddha hendaknya tetap menghormati mereka yang berkeyakinan seperti itu.

17. Alam Manusia (Manussa loka) adalah terbaik di antara alam-alam kehidupan sebab hanya di alam inilah kita mendapat kesempatan terbesar untuk mengembangkan kebijaksanaan dan mencapai Pencerahan. Para dewa menikmati kebahagiaan yang demikian tinggi, sedemikian rupa sehingga mereka tidak terdorong untuk mengembangkan batinnya, sebaliknya makhluk di alam-alam rendah mengalami demikian banyak penderitaan sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Manusia mengalami kebahagiaan dan kesengsaraan dalam bagian yang sama. Ukuran dan struktur otak manusia memungkinkan kesadaran untuk berpikir, menalar dan memiliki daya ingat. Sebenarnya, Buddhis kuno mengungkapkan keberadaan manusia dalam berpikir, dalam kata manusia (manussa), yang berasal dari kata mana ussannata, yang berarti “mengutamakan berpikir”. Manusia juga mempunyai bahasa yang berkembang baik, yang memungkinkan komunikasi Dhamma dengan baik. Dibalik kenyataan bahwa alam manusia adalah yang terbaik dari segala alam, namun terlahir sebagai manusia adalah kesempatan yang sangat jarang, oleh karena kita seharusnya menggunakan sebaik mungkin kesempatan tersebut. Sang Buddha bertanya:

“Yang mana lebih banyak – pasir diujung kuku saya, atau pasir seluruh bumi?”

“Guru, jauh lebih banyak pasir di bumi ini. Sangat sedikit pasir di ujung kuku Guru. Satu sama lain tidak dapat dibandingkan.”

“Demikian pula, makhluk yang dilahirkan sebagai manusia adalah sangat sedikit. Jauh lebih banyak yang terlahir dalam alam-alam lainnya. Oleh karenanya engkau hendaknya melatih dirimu, dengan senantiasa berpikir: “Kita akan hidup sebaik mungkin”.8

18. Tidak hanya, terlahir sebagai manusia adalah kesempatan terbaik untuk mencapai Pencerahan, namun juga karena semua manusia bisa mencapai Pencerahan. Alasan untuk itu adalah karena umat manusia hanyalah satu. Hal itu perlu disebutkan karena ada agama-agama dan paham-paham politik yang menganggap perbedaan ras, kasta atau kelas menyebabkan perbedaan kapasitas intelektual, oleh karenanya mereka harus diperlakukan berbeda dan diberi kesempatan berbeda. Hindu kuno mengajarkan pemahaman seperti itu, dengan membagi manusia atas empat kasta dan mengeluarkan yang terendah, kasta Sudra, dari kehidupan sosial dan agama, karena dianggap tidak mempunyai kemampuan intelektual. Sang Buddha menentang keras paham tersebut. Puluhan khotbah Beliau menampilkan alasan untuk meruntuhkan sistim kasta dan menegakkan persamaan martabat dan harkat manusia.9 Beliau bersabda:

Apabila engkau memperhatikan pepohonan atau rumput,
Tanpa mengetahuinya,
Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya

Lalu perhatikan ngengat dan kumbang,
Atau serangga kecil seperti semut;
Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya

Dan pada makhluk ber-kaki empat,
Yang besar dan kecil,
Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya

Perhatikan makhluk yang merayap pada perutnya,
Ular dan hewan melata lainnya.
Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya.

Perhatikan ikan
Dan semua yang hidup di air
Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya

Perhatikan burung yang beterbangan
Mereka yang bepergian melalui angkasa;
Mereka juga tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya
Pada semua makhluk-makhluk itu,
Macam dan ragamnya dapat terlihat;

Pada manusia tidak ada perbedaan diantaranya.
Tidak dirambut atau kepala, ditelinga atau mata,
Tidak di mulut atau hidung, bibir atau alis,
Adanya perbedaan yang mencolok.
Tidak di leher atau bahu,
Tidak di perut atau dada,
Tidak pula pada kelamin
Adanya perbedaan mencolok.

Tidak pada tangan atau kaki, pada jari atau kuku,
Tidak pada betis, paha atau bentuk penampilan,
Adanya perbedaan ragam dan macamnya,
Seperti pada makhluk lainnya.

Ragam manusia tidak berbeda banyak,
Seperti makhluk lainnya.
Yang berbeda antara umat manusia,
Hanyalah perbedaan tak bermakna.10

19. Ada pendapat bahwa wanita mempunyai kemampuan spiritual yang kurang dibanding laki-laki. Dalam hal ini Agama Buddha, beranggapan bahwa maskulinitas dan feminitas adalah perbedaan bentuk, bukanlah perbedaan batin.11 Pencerahan dicapai mengembangkan kebijaksanaan dan welas-asih, dan siapa saja, tidak tergantung dari jenis kelaminnya dapat mencapainya. Sang Buddha bersabda:

Wanita, dari perumah-tangga biasa sampai yang telah meninggalkan keduniawian, dapat mencapai tingkat Pemenang-Arus, tingkat Yang-Kembali-Sekali, tingkat Yang-Tak-Kembali, tingkat Arahat.12
Oleh karenanya wanita seharusnya diperlakukan sama dan mendapat kesempatan yang sama dengan kaum lelaki. Pandangan Sang Buddha pada kemampuan pencapaian Pencerahan oleh wanita dirangkum dengan baik oleh seorang murid Beliau bernama Soma.

Kodrat sebagai wanita tidaklah berperan
Tatkala batin tenang dan kokoh,
Tatkala pengetahuan berkembang hari ke hari,
Dan ketika dia merenungkan Dhamma.
Seseorang yang berpikir seperti ini:
Oleh karena “Saya wanita” atau “Saya pria”
Ataupun setiap pikiran “Saya adalah ……”
Mara akan dapat menyapanya.13

Beberapa agama mengajarkan bahwa wanita diberi peran oleh Tuhan, biasanya sebagai ibu atau isteri, dan mereka wajib melaksanakan peran itu. Agama Buddha tidaklah mengajarkan demikian. Wanita sebagai halnya lelaki bebas untuk memilih perannya, sebagai ibu, isteri, pengusaha, biarawati, dan lainnya; apapun yang mereka pikir memberi kepuasan dan kebahagiaan.

Karena mengetahui bahwa setiap insan dapat mencapai Pencerahan, Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua orang, dengan harapan semuanya mempelajarinya, melaksanakannya dan saling mengajarkannya. Ketika Mara membujuknya agar mati lebih dini, Sang Buddha menjawab:

Saya tidak akan mati sebelum para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria serta wanita telah mempelajari mendalami, kebijaksanaan dan terlatih, dapat mengingat ajaran, menguasai ajaran utama dan tambahan serta bermoral; sampai mereka dapat menguasai, dapat menyampaikan pada lainnya, mengajarkannya, memaklumkannya, memperdalam, menghayati, menerangkan serta membabarkannya; sampai mereka mampu membedakannya dari ajaran salah yang diajarkan oleh yang lainnya dan dapat menyebarkan kebenaran yang meyakinkan serta dapat membebaskan ini, ke segala penjuru. Saya tidak akan mati sampai tata kehidupan yang suci telah dicapai, dihargai dan dihormati; sampai ajaran kebenaran ini dikenal luas diantara dewa dan manusia.14

20. Alam Binatang (tiracchana yoni) termasuk semua hewan menyusui, burung-burung, ikan, binatang melata dan serangga. Pada Alam Binatang; perasaan setia, mengasihi, berkorban dan sebagainya hampir tidak ada lagi, unsur pendorong utama dalam kehidupan mereka adalah sekadar naluri makan, seks dan mempertahankan hidup. Karenanya binatang saling memangsa tanpa cinta-kasih atau welas-asih, tanpa mengharapkan bantuan atau simpati dari yang lainnya. Sang Buddha bersabda tentang Alam Binatang:

Disana tidak ada kehidupan sesuai Dhamma, tidak ada keseimbangan hidup, tidak dilakukan yang baik dan terlatih; hanya saling memangsa dan memakan yang lebih lemah.15

21. Alam Roh-Lapar (peta) adalah alam makhluk yang batinnya senantiasa tersiksa oleh kerinduan, keinginan dan perasaan frustasi karena tidak mendapatkan yang diinginkan, mereka senantiasa mengembara mencoba memuaskan lapar.

22. Alam Roh-Cemburu (asura) disebut demikian karena mereka tersiksa oleh cemburu dan keinginan memiliki. Kebahagiaan di alam lain terutama Alam Dewa, menyebabkan mereka terbakar api cemburu.

23. Makhluk yang semata-mata mengalami rasa sakit berada di Alam Neraka (niraya). Kesakitan yang mereka alami bukan jasmaniah, tapi adalah rasa takut, kwatir, tertekan dan penyesalan mendalam.

24. Walau alam kehidupan adalah tempat, namun sebenarnya lebih dari demikian; alam-alam tersebut terutama adalah keadaan batin. Seseorang yang anggun, berdaya dan bahagia dapat dikatakan berada di alam dewa seperti kebahagiaan dewa sebenarnya. Pula, manusia yang mengalami banyak penderitaan batin dapat dikatakan berada di alam neraka seperti penderitaan batin dapat dikatakan berada di alam neraka seperti penderitaan di alam neraka sebenarnya. Sang Buddha menegaskan, dengan bersabda:

Apabila seorang dungu berkata bahwa neraka ada dibawah laut, maka mereka sebenarnya berkata palsu tak berdasar. Istilah “neraka” adalah menunjukkan perasaan-perasaan yang menyakitkan.16

Pada umumnya semua agama menerima adanya alam surga dan alam neraka, namun adalah anggapan salah bahwa keberadaan di kedua alam itu adalah selamanya. Sang Buddha mengajarkan, bahwa sesudah masa hidup satu makhluk di suatu alam habis, makhluk itu akan lahir lagi di alam lain. Proses kelahiran dan kematian yang tak berujung pangkal, berpindah dari satu alam ke alam lain, itulah yang disebut samsara. Ajaran Sang Buddha menolong kita untuk berbahagia pada kehidupan sekarang ini dan agar terlahir di alam yang penuh kebahagiaan pada kehidupan yang akan datang. Namun, kebahagiaan yang lengkap hanya bisa dicapai setelah terbebas dari Samsara dan mencapai Pencerahan, dan inilah tujuan tertinggi dari ajaran Sang Buddha.

25. Andaikata ada seorang ilmuwan yang tinggal di tengah-tengah perkampungan suatu suku tertentu, katakanlah untuk mempelajari adat istiadat mereka; lalu, pada suatu hari dia melihat penduduk kampung sedang mengadakan permainan tradisonal mereka. Si ilmuwan, walau memperhatikan dengan seksama permainan itu, tidak akan mengerti apapun, karena tidak mengetahui aturan main permainan tersebut. Lalu, setelah dia diberitahu aturan permainan tersebut, maka semua gerakan atau tindakan dari para pemain yang sebelumnya tidak berarti, sekarang telah mempunyai arti baginya.
Kehidupan kita sebenarnya menyerupai perumpamaan diatas. Semua yang terjadi pada kita dan sekeliling kita tampak tidak berarti dan membingungkan, oleh karena tiadanya pengertian.

Untuk dapat mengerti makna kehidupan, kita masing-masing mengadakan penelitian lewat ajaran agama, namun selalu ada kejanggalan-kejanggalan yang tidak dapat dijelaskan oleh agama, atau malah bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri (yang mungkin lalu dianggap saja sebagai “misteri”). Namun setelah Sang Buddha tampil menerangkan, mengapa dan bagaimana semua ini terjadi, barulah kehidupan ini tampak berarti dan mempunyai makna bagi kita. Tujuan hidup tak lain adalah melepaskan diri dari samsara dan membebaskan batin kita untuk mencapai kedamaian Nibbana. Sang Buddha bersabda:

Kehidupan suci bukanlah demi keberuntungan karena mendapat kekayaan, kehormatan dan kemasyuran, dan kehidupan bermoral; bukan pula demi keberuntungan yang dikarenakan dapat memusatkan pikiran, pula bukan untuk keberuntungan yang dikarenakan oleh pengetahuan dan kewaskitaan. Tapi adalah sesuatu “kebebasan batin yang tak tergoyahkan” itulah yang menjadi tujuan dari kehidupan yang suci, itulah sasaran-nya, itulah titik puncak-nya.17

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

ALAM SEMESTA   Leave a comment

ALAM SEMESTA

  1. Dapat dikatakan, hampir setiap agama memiliki mitos yang mencoba menerangkan asal dan segi-segi alami dari alam semesta. Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup kepada mereka. Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama. Yahudi kuno serta kaum Kristen memiliki dua legenda penciptaan, keduanya tercatat di kitab Bible. Yang pertama mengatakan, bahwa Hebrew menciptakan alam semesta serta terang dan gelap pada hari pertama, air dan daratan kering pada hari ke dua, semua tumbuhan pada hari ke tiga, matahari dan bulan serta bintang-bintang pada hari ke empat, semua burung dan hewan pada hari ke lima, lalu laki-laki dan wanita pertama pada hari ke enam.*1 Legenda penciptaan yang ke dua menyebutkan bahwa Tuhan membuat bumi, lalu laki-laki pertama, lalu tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, lalu terakhir seorang wanita.*2 Cina kuno mempercayai P’an Ku memahat alam-semesta yang sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, giginya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun. Pula, setiap agama mempunyai pemahaman yang berbeda menyangkut umur dan luas alam semesta, tapi kebanyakan masih dalam jangkauan manusia. Kitab Bible, misalnya menunjukkan bahwa alam semesta berumur beberapa ribu tahun. Sesuai pergantian zaman lalu mitos dan legenda, kemudian terganti oleh penelitian alam semesta ilmiah yang moderen.

  2. Perkembangan dari Ilmu Fisika moderen saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta tidak berawal secara serentak. Alam semesta secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, terbentuk dan hancur, suatu proses tanpa awal dan akhir. Dengan sendirinya, bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada, dan hal ini jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.
    Sang Buddha berpendapat, bahwa alam semesta, yang disebut Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:

    Tidak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui.

  3. Para pakar ilmu pengetahuan sekarang meyakini, bahwa alam semesta adalah suatu sistim yang berdenyut, yang setelah mengembang secara maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan masa; sedemikan besar sehingga menyebabkan ledakan, yang disebut sebagai “big bang”, yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sekali, lagi, Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta. Beliau bersabda:

    Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta menciut ……. Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta mulai mengembang lagi.

  4. Penemuan teleskop konvensional dan teleskop radio belakangan kemudian, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui tidak saja asal dan sifat alami dari alam semesta, tapi juga susunannya. Diketahui sekarang, bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet, asteroid dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti (Inggeris: Milky Way). Bimasakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa galaksi-galaksi di alam semesta ini tersusun berkelompok. Kelompok galaksi dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain, kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.
    Dibalik kenyataan; bahwa tata surya, galaksi, dan kelompok galaksi baru diketahui di dunia Barat setelah penemuan peralatan canggih; maka ternyata kitab suci Agama Buddha telah banyak menyebutkan hal tersebut ribuan tahun sebelumnya. Penganut agama Buddha sejak zaman dahulu telah menggambarkan galaksi sebagai berbentuk spiral. Istilah dalam bahasa Pali untuk galaksi adalah “cakkavala”; yang berasal dari kata “cakka”, yang berarti cakram / roda. Sang Buddha secara sangat jelas dan tepat menggambarkan kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan. Beliau menyebutnya sebagai sistim dunia (lokadhatu) dan menambahkan perbedaan dalam ukurannya: sistim dunia ribuan-lipat, sistim dunia puluhan ribu-lipat, sistim dunia besar, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistim dunia terdiri dari ribuan matahari dan planet, walau sebenarnya oleh para ahli astronomi menyebutnya sebagai jutaan.Sejauh matahari-matahari dan bulan-bulan berputar, bersinar dan memancarkan sinarnya ke angkasa, sejauh itu pula sistim dunia ribuan-lipat. Didalamnya terdapat ribuan matahari, ribuan bulan.

  5. Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat ke pemahaman dunia semata. Didalam Bible misalnya, dipahami bahwa seluruh alam-semesta diciptakan dalam enam hari dan penciptaan itu terjadi barulah beberapa ribu tahun lalu.
    Saat ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan ribuan-milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Manusia zaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu. Sang Buddha, adalah pengecualian. Kebijaksanaan-Nya, yang tak terbatas, dapat memahami konsep dari alam semesta yang tak terbatas. Beliau menyebut adanya “daerah gelap, hitam, kelam diantara sistim-sistim dunia, sedemikian rupa hingga cahaya matahari dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya …….”6. Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya sistim dunia sangatlah panjang; diperlukan sangat banyak ‘kappa’ (sebagai satuan waktu) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab:
    “Sangat panjang kurun waktu satu kappa. Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad”. “Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan?”
    “Dapat. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang 1 mil, lebar 1 mil dan tingginya juga 1 mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada seorang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok dari pada suatu kappa berlalu. Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu”

    Disini terlihat, betapa Sang Buddha menggunakan perumpamaan seperti diuraikan diatas untuk memberi gambaran tentang “jarak ruang dalam satuan waktu”; sama halnya para ahli astronomi saat ini menggambarkan “jarak-jarak di angkasa luar dengan menggunakan satuan tahun cahaya”.

  6. Namun, Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap, bahwa berteori dan berspekulasi tentang hal tersebut, adalah lebih penting dibanding masalah utama kita, yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana (Sansekerta: Nirwana). Ketika seorang sekali waktu mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha membandingkan keadaan orang tersebut sebagai seorang yang terkena panah beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut. Sang Buddha, lalu bersabda:
    Menjalani hidup yang suci tak dikatakan tergantung apakah alam semesta ini terbatas atau tidak, atau keduanya atau tidak keduanya. Sebab apakah alam semesta ini, terbatas atau tidak; tetaplah ada kelahiran, tetap ada usia-lanjut, tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, keperihan dan keputusasaan; dan untuk mengatasi semua itulah semua yang Saya ajarkan.
    Sangat jelas, dengan hanya berbekal pengetahuan tentang bagaimana alam-semesta terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, pula tidak akan dapat mengembangkan kemurahan hati, kebajikan dan cinta kasih. Buat Sang Buddha pertanyaan menyangkut hal-hal ini adalah jauh lebih penting dari pada spekulasi tentang asal-mula alam semesta.
  7. Walau demikian, konsep Sang Buddha tentang alam-semesta yang sangat tepat dan maju, menyebabkan kita bertanya dalam diri; bagaimana bisa Beliau mengetahui semua ini. Bagaimana mungkin seorang mengetahui tentang berkelompoknya Bimasakti dan bahwa Bimasakti itu berbentuk spiral, jauh sebelum penemuan teleskop? Bagaimana Dia, yang hidup di zaman lampau demikian menghayati ke-takterbatasan waktu dan ruang? Jawaban satu-satunya yang mungkin ialah karena, Beliau, sebagai yang disebut oleh Beliau sendiri, adalah Buddha yang telah mencapai Pencerahan (Inggeris: enlightenment). Batin-Nya demikian sempurna, bebas dari prasangka dan kekhayalan yang biasanya mengabuti batin orang biasa, pengetahuannya telah berkembang diluar kemampuan manusia biasa. Sang Buddha menyatakan diri-Nya sebagai “pengenal alam-semesta” (lokavidu), dan pernyataan Beliau memang terbukti kebenarannya.

Posting ini telah dilihat sebanyak :147

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

KAMMA ATAU HUKUM SEBAB AKIBAT   Leave a comment

INTISARI AGAMA BUDDHA

Merupakan karya tulis Ven. Narada Mahathera
dengan judul asli “ Buddhism in Nutshell.”
Penerbit : Yayasan Dhamma Phala, Semarang

 

 

 

 

KAMMA ATAU HUKUM SEBAB AKIBAT

Dunia telah membuktikan kenyataan yang telah kita lihat ketidak seimbangan itu. Kita menyaksikan perbedaan – perbedaan berbagai macam jalan kehidupan serta tingkah laku makhluk – makhluk yang hidup di alam semesta. Kita dapat melihat seseorang dilahirkan dalam keadaan berlebihan, dikarunia dengan pikiran, kepribadian dan tubuh yang sempurna ; sedangkan orang lain dilahirkan dalam keadaan sengsara dan menyedihkan. Bisa terjadi orang yang bajik dan saleh selalu bernasib buruk. Ia tetap miskin dan sengsara meskipun ia selalu berlaku jujur dan bajik. Sebaliknya, ada orang lain yang berwatak jahat, kejam dan korup, tetapi selalu mujur, dikaruniai dengan segala bentuk kesenangan.

Timbul berbagai pertanyaan dalam diri kita, mengapa seseorang mempunyai kedudukan rendah, sedang orang lain mempunyai kedudukan mulia ? Mengapa seseorang harus direnggut dari tangan ibu yang penuh kasih sayang sewaktu ia masih kanak – kanak, sedangkan orang lain meninggal dalam usia remaja atau pada usia delapan puluh atau seratus tahun ? Mengapa seseorang memiliki fisik lemah dan berpenyakitan, sedang orang lain memiliki tubuh yang kuat dan sehat ? Mengapa seseorang berwajah tampan, dan orang lain berwajah buruk, menakutkan, sehingga orang lain ngeri dan takut melihatnya ? Mengapa seseorang dibesarkan dalam kemewahan, sedang orang lain dibesarkan dalam kemiskinan dan kesengsaraan ? Mengapa seseorang terlahir sebagai jutawan, sedang orang lain terlahir sebagi pengemis ? Mengapa seseorang memiliki kecerdasan luar biasa, sedang orang lain begitu tolol ? Mengapa seseorang terlahir dengan sifat saleh, sedangkan orang lain terlahir dengan kecenderungan – kecenderungan kriminal ? Mengapa ada orang yang berbakat sebagai ahli bahasa, artis, ahli matematika atau ahli musik sejak lahir ? Mengapa ada orang yang buta, tuli dan cacat sejak lahirnya, mengapa ? Inilah beberapa pertanyaan yang membingungkan orang – orang. Bagaimana kita harus menerangkan “ ketidakadilan “ dunia, perbedaan – perbedaan di antara umat manusia ini ? Apakah semua fenomena itu terjadi secara kebetulan ?

Dalam dunia ini tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Menyatakan bahwa sesuatu terjadi secara kebetulan adalah sama salahnya dengan menyatakan buku ini ada dengan sendirinya tanpa ada faktor – faktor lain sebelumnya. Sesungguhnya, tak ada sesuatu yang terjadi pada manusia tanpa alasan dan yang tidak dikehendaki.

Apakah hal – hal ini disebabkan oleh sesuatu makhluk yang tak bertanggung jawab ?

Huxley menulis : “ Apakah kita berpendapat bahwa ada seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil “.

Menurut Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini maha kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran, perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ; lalu bagaimana manusia harus bertanggung jawab atas perbuatan – perbuatan dan pemikiran – pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu ?

“ Sewaktu memberi hukuman dan anugrah, ia sedikit banyak juga harus mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? ”.

“ Menurut asas – asas theologie, manusia diciptakan bukan atas dasar keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka, mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan – keinginan, harapan – harapan, cita – cita, usaha – usaha atau doa sujudnya. Inilah fatalisme theologi “. ( Spencer Lewis ).

Sebagaimana Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran theis. Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan bertolak belakang dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana dan serba kuasa “.

Menurut Schopenhauer “ Barang siapa menganggap dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia akan kembali ke ketiadaan itu lagi ; suatu kekekalan telah lewat sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan “.

“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir yang mutlak “.

Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta, Prof.J.B.S. Haldane menulis : “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara keseluruhan dan bahwasanya terdapat suatu kekosongan intelektual yang harus diisi dengan mendalilkan seorang dewa. Dan barangkali seorang pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan “.

Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa. Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan kesengsaraan yang akan terjadi di dalamnya. Karenanya, ia bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia – sia memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggung jawab akan akibat – akibat dosa itu.

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan ? kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik – kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai faktor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak bertanggung jawab atas perbedaan – perbedaan besar yang terdapat di antara individu – individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan – perbedaan yang besar ini. Sesungguhnya, faktor keturunan lebih masuk akal atas persamaan – persamaan mereka daripada atas perbedaan – perbedaan. Benih fisik – kimiawi dengan panjangnya kira – kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan – perbedaan batin, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang kriminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru – guru besar.

Menurut agama Buddha, perbedaan – perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari perbuatan lampau kita dan perbuatan – perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas perbuatan – perbuatan kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma kita sendiri.

Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan berdasarkan hukum sebab akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya sendiri. Disinilah Sang Buddha tidak memaksa supaya kita percaya. Hal ini malah kita diminta untuk datang dan buktikan terlebih dahulu. Semua hal ini bagaikan Beliau menerangkan masalah Bakteri, Virus dan sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya mereka dengan melihat dan menyaksikan sendiri dengan menggunakan microscope elektrone. Kalau kita ingin melihat dengan mata daging ini sudah pasti Hukum Kamma yang begitu rumit dan susah dilihat akibatnya. Tetapi semua ini telah dibuktikan kebenarannya itu oleh para Suciwan. Dengan kekuatan batin yang tenang didalam Jhana IV. Jadi secara tegas siapapun yang mampu mencapai Jhana IV. Mereka pasti bisa membuktikan kebenaran itu.

Pada suatu ketika, seorang pemuda bernama Subha datang menemui Sang Buddha dan bertanya kepada Beliau, “ Mengapa dan apa sebabnya di antara umat manusia ada yang memiliki keadaan rendah dan ada yang memiliki keadaan mulia ? Mengapa ada manusia yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang, ada yang sehat dan ada yang berpenyakitan, ada yang berwajah tampan dan ada yang berwajah buruk, ada yang berkuasa dan yang tertindas, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang hina dan ada yang mulia, ada yang bodoh dan ada yang bijaksana ? “

Sang Buddha menjawab : “ Semua makhluk memiliki kammanya sendiri, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, terlindung oleh kammanya sendiri. Kammalah yang membuat semua makhluk menjadi berbeda, hina atau mulia “.

Selanjutnya Sang Buddha menerangkan sebab perbedaan – perbedaan tersebut sesuai dengan hukum Sebab Akibat.

Dari sudut pandangan agama Buddha, perbedaan – perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan – perbuatan kita sendiri yang dilakukan di waktu lampau dan di waktu sekarang.

Secara harfiah kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik ( Kusala Cetana ) dan yang buruk ( Akusala Cetana ) . Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah hukum kamma.

Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan di waktu lampau ; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau ; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa kita lakukan sekarang. Misalnya seorang kriminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari dan sebaliknya.

Agama Buddha mengkaitkan perbedaan ini dengan kamma, tetapi tidak menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma saja. Apabila segala sesuatu disebabkan oleh kamma, maka seorang penjahat akan selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat. Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh dengan sendirinya.

Menurut agama Buddha, terdapat lima hukuman atau proses ( Niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu :

•  Kamma niyama atau hukum sebab dan akibat : perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat – akibat yang sesuai.

•  Bija niyama atau hukum benih ( hukum fisik organik ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebu atau madu, dan lain – lain. Teori ilmiah tentang sel – sel dan gen – gen ( plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar dapat dianggap berasal dari hukum ini.

•  Utu niyama atau hukum fisik ( inorganik ), yaitu fenomena angin dan hujan menurut musim.

•  Citta niyama atau hukum pikiran ( hukum psikis ), yaitu proses – proses kesadaran ( citta vitthi ), kekuatan pikiran dan lain – lain.

•  Dhamma niyama atau hukum alam, yaitu : fenomena alam yang terjadi pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran terakhir, gaya tarik bumi, dan lain – lain.

Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum serba lengkap ini, atau proses yang merupakan hukum itu sendiri.

Karena itu, kamma hanyalah merupakan salah satu dari lima hukum yang berlaku dalam alam semesta. Kamma adalah hukum itu sendiri, tetapi dengan demikian tidak berarti harus ada seseorang pemberi hukum. Kamma bekerja dalam bidangnya sendiri tanpa campur tangan atau pengaruh dari apapun. Misalnya, tak ada orang yang memutuskan bahwa api itu harus membakar. Tak ada orang yang memerintahkan bahwa air harus mencari permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air harus terdiri dari H2O dan sifat dingin harus menjadi salah satu sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu. Berapa jauh ia dapat membelokkannya tergantung pada usaha dirinya sendiri.

Perlu diingatkan di sini, bahwa fraseologi seperti anugrah dan hukuman jangan dimasukkan dalam pembicaraan mengenai kamma. Kamma dalam agama Buddha tidak mengakui Dewa Maha Kuasa yang memerintah warganya dan memberikan anugrah atau hukuman. Umat Buddha percaya bahwa kesedihan dan kebahagiaan yang dialami seseorang merupakan akibat wajar dari perbuatan – perbuatan baik dan buruknya sendiri. Disini perlu dinyatakan bahwa kamma memiliki dua prinsip, kelangsungan dan balas jasa.

Sifat yang terdapat dalam hukum kamma adalah kemampuan yang menghasilkan akibat sebagaimana mestinya. Sebab menghasilkan akibat ; akibat menerangkan sebab. Benih menghasilkan buah ; buah menghasilkan benih, karena keduanya saling berhubungan. Begitu juga, kamma dan akibatnya saling berhubungan ; “ akibat berkembang di dalam sebab “.

Seorang umat Buddha yang benar – benar yakin akan kamma tak akan berdoa pada makhluk lain untuk diselamatkan, tetapi dengan penuh keyakinan ia bergantung pada dirinya sendiri untuk mencapai kesuciannya, karena hukum kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Ajaran kamma inilah yang memberi hiburan, harapan, kepercayaan pada diri sendiri dan keberanian moral. Keyakinan dalam hukum kamma inilah “ yang mengabsahkan usaha, mengorbankan semangat, untuk selalu berbuat bajik, toleran dan berhati – hati “. Keyakinan yang teguh dalam ajaran hukum kamma ini juga mendorong untuk berbuat baik dan menjadi orang baik tanpa merasa takut akan hukuman atau tergoda oleh anugerah apapun. Ajaran kamma inilah yang dapat menerangkan persoalan – persoalan mengenai penderitaan, misteri yang dinamakan nasib atau takdir dalam ajaran – ajaran lain dan terpenting adalah menerangkan “ ketidaksamaan di antara umat manusia “. Kamma dan tumimbal lahir diterima sebagai dalil.

TUMIMBAL LAHIR

Selama kekuatan kamma masih ada, selalu akan terjadi tumimbal lahir. Makhluk – makhluk merupakan perwujudan nyata dari kekuatan yang tak terlihat ini. Kematian hanya merupakan akhir sementara dari fenomena yang tidak langgeng ini. Kehidupan organik telah berakhir, tetapi kekuatan kamma yang telah menggerakkannya sampai sekarang ini belum hilang. Karena kekuatan kamma tidak terganggu oleh kehancuran badan jasmani, maka datangnya saat pikiran kematian ( Cuti Citta ) sekarang ini mempersiapkan kesadaran baru dalam kelahiran berikutnya.

Kamma yang berakar pada kebodohan dan nafsu keinginan menjadi syarat bagi tumimbal lahir. Kamma lampau menentukan kelahiran sekarang dan kamma sekarang bergabung dengan kamma lampau, menentukan kelahiran berikutnya. Keadaan sekarang adalah akibat dari keadaan yang lalu dan menjadi sebab dari akibat yang akan datang. Sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab. Dalam suatu lingkaran sebab akibat, sebab awal tak dapat diketahui. Menurut teori pertama, kehidupan mempunyai awal ; sedang menurut teori kedua, kehidupan tak mempunyai awal.

Dari sudut pandangan ilmiah, kita merupakan produk langsung dari bersatunya sperma dan sel telur orang tua kita. Demikianlah hidup mendahului hidup. Mengenai asal mula protoplasma kehidupan yang pertama, atau koloid, para ilmuwan tetap berdiam diri.

Menurut agama Buddha kita lahir dari rahim perbuatan ( Kammayoni ) . Orang tua hanya semata – mata menyediakan satu sel yang amat kecil. Demikianlah perwujudan mendahului perwujudan. Pada saat terjadinya kehamilan, tenaga kamma lampau mempersiapkan kesadaran – kelahiran yang memberi gaya hidup kepada janin itu. Tenaga kamma yang tak terlihat yang berasal dari kehidupan lampau inilah yang menghasilkan fenomena mental dan kehidupan dalam suatu fenomena fisik yang sudah ada, melengkapi trio yang membentuk manusia.

Untuk lahirnya seorang makhluk di suatu tempat harus ada seorang makhluk yang mati di tempat lain. Kelahiran seorang makhluk, sesungguhnya berarti munculnya lima khandha ( kelompok kehidupan ) atau fenomena psiko – fisik dalam kehidupan sekarang ini yang dapat disamakan dengan kematian seorang makhluk dalam suatu kehidupan lampau. Seperti misalnya dalam contoh sehari – hari : timbulnya matahari di suatu tempat dan terbenamnya di tempat lain. Pernyataan yang membingungkan ini dapat dimengerti lebih baik dengan membayangkan kehidupan ini seperti gelombang dan bukan seperti suatu garis lurus. Kelahiran dan kematian merupakan dua fase dari satu proses yang sama. Kelahiran mendahului kematian dan sebaliknya, kematian mendahului kelahiran. Rangkaian kelahiran dan kematian yang tetap dalam kaitannya dengan arus kehidupan masing – masing individu membentuk apa yang secara tehnis dikenal sebagai Samsara – pengembaraan berulang – ulang.

Apakah asal mula kehidupan itu ? Sang Buddha menyatakan : “ Awal proses samsara ini tidak dapat dipahami. Makhluk pertama yang digelapi oleh kebodohan dan dibelenggu oleh nafsu keinginan, berkelana dan tunggang langgang di dalam kehidupan tak menentu. “

Arus kehidupan ini mengalir terus tanpa akhir, ad – infinitum selama terus diisi dengan lumpur kebodohan dan nafsu keinginan. Hanya bilamana kedua hal ini hancur seluruhnya, maka arus samsara ini akan berhenti mengalir. Tumimbal lahir berakhir seperti halnya dengan para Buddha dan Arahat. Awal mula kehidupan ini tidak dapat dipastikan, karena taraf dimana kekuatan hidup ini masih belum dipenuhi dengan kebodohan dan nafsu keinginan tidak dapat diketahui. Sang Buddha hanya menunjukkan permulaan arus kehidupan makhluk – makhluk. Terserah kepada para ilmuwan untuk berspekulasi tentang asal mula dan evolusi dalam semesta.

Sang Buddha tidak mencoba memecahkan semua persoalan etika dan filsafat yang membuat bingung umat manusia. Beliau pun tidak berurusan dengan teori – teori dan spekulasi – spekulasi yang tidak membawa kepada kemajuan batin dan pada penerangan sempurna. Beliau juga tidak menuntut kepercayaan membuta dari para pengikut-Nya tentang sebab awal. Beliau semata – mata hanya memperhatikan persoalan penderitaan dan penghancurannya.

Tetapi bagaimana kita bisa percaya bahwa ada suatu kehidupan lampau ? Sumber keterangan mengenai tumimbal lahir yang amat diyakini oleh umat Buddha adalah Sang Buddha sendiri. Beliau telah mengembangkan pengetahuan yang menjadikan Beliau mampu melihat kehidupan – kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang.

Dengan mengikuti petunjuk – petunjuk Beliau, para siswa-Nya juga mengembangkan pengetahuan ini, sehingga mereka mampu melihat sebagian besar kehidupan lampau mereka sendiri.

Bahkan sebelum zaman Sang Buddha, resi – resi India sudah terkenal akan kemampuannya telinga-dewa dan mata-dewa mereka dan kepandaiannya membaca pikiran serta mengingat kelahiran – kelahiran lampau.

Ada juga beberapa orang yang mungkin sesuai dengan hukum perhubungan, mendadak dapat memiliki kemampuan mengingat kehidupan serta perjalanan hidup mereka yang lampau. Hal seperti ini memang jarang, tetapi beberapa peristiwa yang telah dibuktikan kebenarannya itu, merupakan kejadian yang cukup baik untuk menjelaskan paham mengenai kehidupan lampau. Begitu juga mengenai pengalaman – pengalaman beberapa ahli ilmu jiwa modern yang dapat dipercaya dan kejadian – kejadian aneh tentang kepribadian ganda yang berubah – ubah.

Dalam keadaan dihipnotis, beberapa orang dapat menceritakan pengalaman – pengalaman dalam kehidupan lampau mereka ; sedangkan beberapa orang lainnya dapat membaca kehidupan lampau orang – orang lain dan bahkan dapat mengobati berbagai penyakit.

Kadang – kadang kita memperoleh pengalaman aneh yang hanya dapat diterangkan melalui teori tumimbal lahir.

Sering kita bertemu dengan orang – orang yang belum pernah kita kenal, namun secara naluri kita merasa bahwa mereka pernah dekat dengan kita. Betapa seringnya kita mengunjungi tempat – tempat tertentu dan merasa seolah – olah kita sudah biasa dan tidak asing lagi dengan lingkungan itu.

Sang Buddha menyatakan : “ Melalui pengalaman dulu dan kesempatan – kesempatan dalam hidup sekarang, kenangan lama tumbuh kembali bagaikan bunga teratai muncul dari dalam air “. Pengalaman – pengalaman beberapa ahli ilmu jiwa yang dapat dipercaya, fenomena – fenomena ajaib, komunikasi roh, kejadian aneh tentang kepribadian ganda dan sebagainya, dapat menjelaskan tentang persoalan tumimbal lahir ini.

Dalam dunia ini terlahir beberapa manusia sempurna seperti para Buddha, orang – orang jenius. Apakah mereka tiba – tiba saja sempurna ? Dapatkah mereka merupakan hasil dari satu kehidupan saja ?

Bagaimana kita akan menerangkan tentang pribadi – pribadi besar seperti Buddhaghosa, Panini, Kalidasa, Homer dan Plato, manusia – manusia genius seperti Shakespeare, anak – anak ajaib seperti Pascal, Mozart, Beethoven, Raphael, Ramanujan dan lain – lain. Fakor keturunan saja tidak dapat menjelaskan kehadiran mereka.

Dapatkah karier mereka menanjak demikian tingginya bila mereka tidak mengalami kehidupan dan pengalaman serupa dalam kehidupan mereka yang lampau ? Apakah hanya karena kebetulan bahwa mereka dilahirkan dari orang tua tertentu sehingga berada dalam lingkungan – lingkungan yang menguntungkan tersebut.

Kesempatan hidup beberapa tahun dalam dunia ini atau paling sedikit lima tahun, sudah pasti tidak dapat merupakan persiapan yang cukup untuk mencapai kepandaian itu. Bila orang percaya akan kehidupan sekarang dan yang akan datang, maka cukup masuk akal untuk percaya akan adanya kehidupan lampau. Saat sekarang merupakan anak dari saat yang lampau dan selanjutnya menjadi orang tua dari saat mendatang.

Bila ada alasan – alasan untuk percaya bahwa kita pernah hidup pada waktu lampau, maka pasti tak ada alasan untuk tidak percaya bahwa kita akan tetap hidup setelah kehidupan kita nampaknya berakhir.

Seorang penulis barat menyatakan : “ Apakah kita mempercayai adanya suatu kehidupan lampau atau tidak, hal tersebut merupakan satu – satunya hipotesa yang masuk akal yang menjembatani jurang tertentu dalam pengetahuan manusia tentang berbagai fakta kehidupan sehari – hari “. Nalar kita memberitahukan bahwa paham tentang kehidupan lampau dan kamma ini sajalah yang dapat menerangkan tingkat – tingkat perbedaan yang ada di antara anak kembar ; bagaimana orang seperti Shakespeare dengan bekal pengalaman yang amat terbatas mampu menulis dengan kecepatan yang mengagumkan tentang berbagai macam karakter dalam adegan – adegan sandiwaranya yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Mengapa karya orang – orang jenius selalu melampaui bekal pengalamannya sendiri ?

Perlu dicamkan apakah ajaran tumimbal – lahir ini dibenarkan atau tidak, namun hal itu diterima sebagai suatu fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Sang Buddha selanjutnya menyatakan : “ Sebab dari kamma ini adalah avijja atau ketidaktahuan tentang Empat Kebenaran Mulia . Karena itu kebodohan merupakan sebab kelahiran dan kematian ; pengetahuan ( vijja ) tentang Empat Kebenaran Mulia berakibat berhentinya proses kelahiran dan kematian ini. “

Percayakah kita terhadap tumimbal lahir ?

Hal ini harus anda jawab sendiri. Adakah hari esok ? Besok itu ada dan menjadi hari ini. Sekarang ini ada karena kelanjutan dari hari kemarin. Jadi dengan tegas terlihat kemarin itu ada, sebagai persamaan dari kehidupan yang lampau. Sekarang ini adalah kehidupan kita sekarang dan besok ada karena adanya sekarang yang mana menunjukkan dengan adanya hidup sekarang masih ada kelanjutan dalam kehidupan yang mendatang !!!

Hasil metode analitis ini diterangkan dalam Paticca Samuppada.

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha

CORAK UTAMA AGAMA BUDDHA   Leave a comment

INTISARI AGAMA BUDDHA

Merupakan karya tulis Ven. Narada Mahathera
dengan judul asli “ Buddhism in Nutshell.”
Penerbit : Yayasan Dhamma Phala, Semarang

 

 

CORAK UTAMA AGAMA BUDDHA

Inti yang terpenting dari Buddha Dhamma adalah 4 Kesunyataan Mulia yaitu :

1. Dukkha : Problem dan masalah dari semua makhluk.

2. Samudaya : Sebab yang menimbulkan problem dan masalah itu.

3. Nirodha : Padamnya dari semua problem.

4. Magga : Jalan yang mengakhiri semua problem dan masalah.

Apakah Kebenaran Mulia tentang Dukkha itu ? Kelahiran, usia tua, kematian adalah dukkha ; kesakitan, keluh kesah, ratap tangis, kesedihan dan putus asa adalah dukkha ; berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang tidak disenangi, tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya, lima kelompok kemelekatan adalah dukkha jadi secara tegas harus kita terima problem dan masalah itu sebagai kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari oleh siapapun.

Apakah Kebenaran Mulia tentang sebab dari Dukkha itu ? “ Itulah nafsu keinginan ( tanha ) yang mengakibatkan kelahiran berulang – ulang ; yang mencari kenikmatan kesana kemari ; yang terdiri atas nafsu keinginan akan kenikmatan – kenikmatan indria ( kama-tanha ) , karena adanya kama-tanha inilah yang akan menimbulkan Bhava tanha ( menginginkan hal – hal yang positif selalu kita dapatkan ), dan akhir bisa menimbulkan penolakan terhadap hal – hal yang tidak diinginkan ( Vibhava tanha ). Semua ini harus dikurangi, dilemahkan dan disingkirkan.

Apakah Kebenaran Mulia tentang Akhir dari Dukkha itu ? “ Itulah penghancuran total, berakhirnya sama sekali, dilepaskannya, ditinggalkannya, tidak terdapatnya nafsu keinginan dan selalu berada di dalam batin yang tenang, damai dan suci. Hal ini harus direalisasikan oleh diri sendiri “.

Apakah Kebenaran Mulia tentang jalan yang membawa kepada akhir Dukkha ? Itulah Delapan Faktor Jalan Utama, yaitu :

1. Pengertian Benar ( samma – ditthi )

2. Pikiran Benar ( samma – sankappa )

3. Ucapan Benar ( samma – vaca )

4. Perbuatan Benar ( samma – kammanta )

5. Penghidupan Benar ( samma – ajiva )

6. Usaha Benar ( samma – vayama )

7. Perhatian Benar ( samma – sati )

8. Konsentrasi Benar ( samma – samadhi )

Siapapun yang menjalankan ke delapan faktor jalan utama ini. Mereka akan mendatangkan kebahagiaan bagi lingkungannya, kebahagiaan dan ketenangan bagi pikiran mereka sendiri dan akhirnya mampu membuat batin dan pikirannya Suci murni yang harus dijalankan bagi para Bijaksana.

Apakah para Buddha muncul di dunia atau tidak, Empat Kebenaran Mulia ini tetap ada dalam alam semesta. Sang Buddha hanya menunjukkan kebenaran yang tersembunyi dalam jurang waktu yang dalam.

Bila diartikan secara alamiah, Dhamma dapat disebut hukum sebab dan akibat. Keduanya ini mencakup seluruh kumpulan ajaran Sang Buddha.

Tiga yang pertama mencakup filsafat agama Buddha, yang keempat membabarkan etika agama Buddha. Berdasarkan pada filsafat tersebut, Empat Kebenaran Mulia ini ada pada badan jasmani kita sendiri. Seperti telah disabdakan oleh Sang Buddha : “ Dalam tubuh yang panjangnya dua depa ini bersama dengan pencerapan dan pikirannya, kunyatakan adanya dunia, asal dunia , akhir dunia dan jalan yang membawa kepada akhir dunia “. Disini, istilah dunia diterapkan untuk dukkha.

Agama Buddha berputar pada poros dukkha ( penderitaan ). Tetapi tidak berarti bahwa agama Buddha bersifat pesimis. Agama Buddha bukan mutlak pesimis ataupun mutlak optimis. Tetapi sebaliknya, agama Buddha mengajarkan kebenaran yang terletak antara keduanya. Orang boleh menyatakan Sang Buddha bersifat pesimis bila Beliau hanya mengajarkan kebenaran tentang penderitaan tanpa memberikan suatu cara untuk mengakhirinya. Sang Buddha melihat penderitaan dan memberikan obat mujarab untuk penyakit umum umat manusia ini.

Menurut Sang Buddha, kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai adalah NIBBANA, yaitu padamnya penderitaan dan kemelekatan secara total.

Pengarang artikel tentang pesimisme dalam Encyclopaedia Britannica menulis : “ Pesimisme adalah suatu sikap putus asa terhadap kehidupan, karena adanya suatu pandangan umum yang salah bahwa penderitaan dan keburukan lebih menonjol dalam kehidupan. Sesungguhnya, ajaran asli Sang Buddha sama optimisnya dengan pandangan dunia barat. Menyatakan agama Buddha bersifat pesimis hanyalah semata – mata menerapkan prinsip dunia barat dimana kebahagiaan tak mungkin ada tanpa kepribadian. Penganut Buddhis yang sejati melangkah maju dengan penuh kegairahan untuk dapat mencapai kebahagiaan abadi “.

Pada umumnya, kenikmatan akan kesenangan indria merupakan suatu kebahagiaan yang tertinggi bagi rata – rata orang. Sudah pasti terdapat semacam perasaan bahagia yang amat didambakan. Tetapi perasaan itu bersifat semu dan sementara. Menurut Sang Buddha, kebebasan dari kemelekatan merupakan satu kebahagiaan yang lebih tinggi.

Sang Buddha tidak mengharap agar siswa Beliau selalu merenungi penderitaan dan menjalani suatu kehidupan yang sengsara. Beliau mengharapkan agar para siswa-Nya selalu bahagia dan gembira, karena kegembiraan ( piti ) merupakan salah satu faktor Penerangan Sempurna.

Kebahagiaan sejati terdapat di dalam diri sendiri, tidak ditentukan oleh kekayaan, anak, kehormatan atau kemasyuran. Bilamana faktor – faktor tersebut disalahgunakan, diperoleh secara paksa atau tidak halal, diselewengkan atau bahkan dimiliki dengan kemelekatan, mereka akan menjadi sumber penderitaan bagi pemiliknya.

Umat Buddha menerima penderitaan sebagaimana adanya dan mencari sebab untuk melenyapkannya. Penderitaan tetap ada selama masih ada nafsu keinginan. Penderitaan hanya dapat dilenyapkan dengan berjalan sesuai Delapan Faktor Jalan Utama untuk selanjutnya mencapai Kebahagiaan Agung – Nibbana.

Empat Kebenaran Mulia, ini dapat dibuktikan melalui pengalaman. Buddha Dhamma tidak didasarkan pada rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui, tetapi didirikan di atas fakta – fakta yang dapat diuji oleh diri kita sendiri dan dibuktikan melalui pengalaman. Karena itu, agama Buddha adalah praktis dan pragmatis.

Sistem yang praktis dan pragmatis seperti itu tidak berisi ajaran – ajaran rahasia. Dengan begitu, keyakinan membuta merupakan hal yang asing bagi umat Buddha. Dimana tidak terdapat keyakinan membuta, tidak akan ada paksaan atau fanatisme. Demi kebanggaan agama Buddha harus dikatakan bahwa sepanjang penyebarannya selama 2.500 tahun tak ada setetespun darah yang ditumpahkan atas nama Sang Buddha. Tak ada raja – raja besar yang menggunakan kekuatan pedangnya untuk menyebarluaskan Dhamma dan tak ada orang yang dipaksa menjadi umat Buddha dengan kekerasan atau cara – cara tercela. Sang Buddha merupakan misionaris pertama dan terbesar yang pernah hidup di dunia ini.

Aldous Huxley menulis : “ Di antara semua agama besar yang ada, hanya agama Buddha menapak jalannya tanpa kekerasan, paksaan atau penganiayaan.

Lord Russell menyatakan : “ Di antara agama – agama besar, aku lebih menyukai agama Buddha karena di dalamnya tidak terdapat unsur paksaan apapun “.

Agama Buddha lebih menarik bagi orang – orang intelektual daripada bagi orang – orang emosional. Agama Buddha lebih mengutamakan kwalitas para pengikutnya daripada kwantitasnya.

Pada suatu ketika, Upali, seorang penganut Nigantha Nataputta, menemui Sang Buddha. Ia merasa senang mendengar uraian Dhamma Beliau, sehingga ia segera menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang pengikut Sang Buddha. Tetapi Sang Buddha menasehatinya dengan berkata : “ O, kepala rumah tangga, lakukanlah penelitian yang mendalam atas suatu kebenaran. Sungguh baik kalau orang terkenal seperti dirimu melakukan penelitian yang mendalam terlebih dahulu “.

Upali merasa amat gembira mendengar nasehat Sang Buddha yang tak disangka ini, lalu ia berkata : “ Bhante, seandainya aku menjadi pengikut agama lain, maka umatnya akan mengarak diriku sepanjang jalan dengan berteriak – teriak “ Seorang jutawan telah meninggalkan keyakinannya yang lama dan memeluk keyakinan kita “. Tetapi, Bhante malah menasehati agar aku meneliti lebih jauh. Pernyataan-Mu ini membuat diriku lebih yakin. Oleh karena itu Bhante untuk kedua kalinya aku menyatakan diriku berlindung kepada Sang Buddha, Dhamma serta Sangha “.

Agama Buddha dipenuhi dengan semangat kebebasan untuk melakukan penyelidikan dan kesempurnaan toleransi. Merupakan ajaran bagi mereka yang terbuka pikirannya dan memiliki perasaan simpati untuk menerangi dan menghangati seluruh dunia dengan sinar kebijaksanaan dan kasih sayang pada semua makhluk yang berjuang di dalam lautan samsara ( kelahiran dan kematian ).

Sang Buddha begitu toleran sehingga Beliau tidak pernah menggunakan kekuasaan-Nya untuk memberi perintah kepada para pengikut-Nya. Beliau hanya berkata : “ Hal ini pantas dilakukan olehmu. Hal ini tidak pantas dilakukan olehmu. “ Beliau tidak memerintah, tetapi menasehati / menghimbau.

Toleransi Sang Buddha ini tertuju kepada pria, wanita dan semua makhluk hidup. Sang Buddhalah yang pertama kali mencoba menghapuskan sistem perbudakan dan dengan penuh semangat menentang sistem kasta yang berakar kuat di tanah India waktu itu. Menurut pendapat Beliau, bukan kelahiran yang membuat seseorang menjadi sampah masyarakat atau pahlawan, melainkan perbuatan – perbuatannya sendiri. Kasta atau warna kulit tidak menghalangi seseorang untuk menjadi umat Buddha atau untuk masuk menjadi anggota Sangha ( sebagai seorang Bhikkhu ). Para nelayan, tukang sapu, pelacur, brahmana atau kesatria bebas menjadi anggota Sangha dan memperoleh hak dan juga tingkat kedudukan yang sama. Misalnya Upali, seorang tukang cukur diangkat sebagai kepala dalam hal Vinaya. Sunita, tukang sapu telah ditahbiskan oleh Sang Buddha sendiri dan akhirnya mencapai tingkat kesucian Arahat. Angulimala, seorang penjahat, ditahbiskan menjadi Bhikkhu oleh Sang Buddha dan dikemudian hari menjadi seorang suci yang penuh welas asih. Alavaka yang begis mencari perlindungan pada Beliau dan akhirnya mencapai tingkat kesucian. Ambapali, seorang pelacur, menjadi Bhikkhuni dan mencapai tingkat Arahat. Masih banyak lagi contoh – contoh dalam kitab suci Tipitaka yang memperlihatkan bahwa pintu agama Buddha terbuka lebar bagi semua orang, tanpa memandang kasta, warna kulit, atau kedudukan.

Adalah Sang Buddha yang mengangkat kedudukan wanita yang tertindas. Beliau bukan hanya menyadarkan mereka akan pentingnya diri mereka bagi masyarakat, tetapi juga membentuk persaudaraan hidup suci yang pertama di dunia, lengkap dengan aturan – aturan dan disiplinnya.

Istilah Pali yang dipergunakan untuk menyebut wanita ialah “ matugama “, yang berarti masyarakat ibu. Sebagai seorang ibu, wanita menempati suatu kedudukan yang penting dalam agama Buddha. Bahkan istri dianggap sebagai “ kawan terbaik “ ( parama sakha ) bagi suami. Walaupun pada awalnya Sang Buddha menolak pembentukan Persamuan Hidup Suci untuk wanita dengan alasan yang kuat, namun akhirnya Sang Buddha mengabulkan permohonan ibu tiri-Nya, Pajapati Gotami, dan mendirikan Sangha Bhikkhuni. Sama seperti Arahat Sariputra dan Monggallana yang ditunjuk Beliau sebagai dua siswa utama dalam Sangha Bhikkhu, demikian juga Beliau menunjuk Arahat Khema dan Upallavana sebagai dua siswi wanita lainnya yang menjadi pengikut Beliau yang saleh dan setia.

Pada suatu ketika, kepada Raja Kosala yang merasa tidak senang mendengar berita bahwa permaisurinya melahirkan seorang putri, Sang Buddha berkata : “ Seorang anak wanita, O Raja, kadang – kadang terbukti merupakan keturunan yang lebih baik daripada pria “.

Banyak wanita, yang dulunya dikucilkan dan diremahkan telah mengangkat dirinya dengan berbagai cara, memperoleh kebebasan mereka dengan mengikuti Dhamma dan memasuki Sangha. Dalam Sangha inilah, yang dikemudian hari tebukti merupakan berkah besar bagi banyak wanita, permaisuri, putri raja, anak – anak wanita keluarga bangsawan, janda – janda, ibu – ibu yang malang, wanita – wanita yang sengsara, pelacur – pelacur yang patut dikasihani, semuanya meskipun berbeda dalam kasta dan kedudukan, berjumpa dalam satu wadah. Disini mereka memperoleh hiburan dan kedamaian dan menghirup udara kebebasan yang tidak dapat dinikmati oleh mereka dalam villa – villa dan bangsal – bangsal istana.

Sang Buddha juga mencegah upacara pengorbanan binatang – binatang dan menganjurkan agar para siswa-Nya mengembangkan cinta kasih ( metta ) mereka terhadap semua makhluk hidup, juga pada makhluk yang terkecil sekalipun yang merayap di bawah kaki seseorang. Tak ada orang yang mempunyai hak atau kekuasaan untuk menghancurkan kehidupan makhluk lain, karena kehidupan amat berharga bagi semua makhluk.

Seorang umat Buddha yang sejati akan memancarkan cinta kasih ini kepada semua makhluk dan menyamakan dirinya dengan semuanya, tidak membuat perbedaan apapun berkenaan dengan kasta, warna kulit atau jenis kelamin.

Metta ( cinta kasih ) inilah yang berusaha mematahkan rintangan yang memisahkan yang satu dengan yang lain. Tak ada alasan untuk memisahkan diri dari orang lain, karena berbeda bangsa atau kepercayaan. Dalam salah sebuah prasastinya, Raja Asoka menuliskan : “ Musyawarah adalah yang terbaik, karenanya semua orang seharusnya bersedia mendengarkan ajaran yang dianut orang lain “.

Agama Buddha tidak terbatas pada suatu negara atau bangsa. Agama Buddha bersifat universal. Bagi seorang Buddhis tidak ada orang jauh atau dekat, tak ada musuh atau orang asing, tak ada orang murtad ( pembelot ) atau paria, karena cinta universal yang dihayati melalui pengertian yang benar telah membentuk persaudaraan antara semua makhluk hidup. Seorang Buddhis sejati merupakan seorang warga dunia. Ia memandang seluruh dunia sebagai tanah airnya dan semua orang sebagai saudaranya.

Karena itu, agama Buddha adalah unik, terutama karena toleransinya, tanpa permusuhan, masuk akal, praktis, universal dan mulia karena semua pengaruh – pengaruhnya yang menyatukan.

Posted January 30, 2011 by chandra2002id in Intisari Agama Buddha