Archive for the ‘Uncategorized’ Category

RAJA PASENADI KOSALA   Leave a comment

    Suatu malam, ketika raja Kosala sedang berbicara kepada Sang Buddha, lewatlah di jalan segerombol pertapa dengan rambut kusut, badan berbulu, dan berkuku panjang. Mereka berjalan pelan-pelan, dengan kepala menunduk rendah. Seketika Raja berdiri dan berlutut untuk memuja mereka, dengan menyebutkan namanya sendiri tiga kali.

    Raja kembali datang kepada Sang Buddha dan berkata, “Yang mulia, di antara para pertapa tadi terdapat orang-orang suci. Dengan melihat betapa tenangnya mereka berjalan dengan kepala menunduk ke bawah”. Dengan mata Kebuddhaannya, Sang Buddha melihat bahwa orang-orang tadi bukanlah orang suci tetapi mata-mata yang dikirim untuk mengumpulkan informasi.

     “Baginda”, kata Sang Buddha, “Dari penampilan luar semata-mata adalah tidak mungkin bagimu yang menjalani hidup senang untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya dari orang lain. Jika kita ingin mengerti kenyataan yang sebenarnya dari seseorang, kebaikan, dan keburukannya, kita harus bergaul dengannya untuk beberapa lama. Kita haruslah bijaksana dan memiliki batin yang  tajam”.

     “Kita dapat mengetahui kemurnian seseorang dnegan berbincang-bincang kepadanya, menyelidiki keberaniannya di dalam menghadapi penderitaan, dan memahami kebijaksanaannya selama percakapan itu. Orang-orang yang jahat, O Raja, kadang-kadang berpura-pura baik dan itu sulit bagimu untuk menilai tingkat kemoralannya”.

Advertisements

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized

RAJA PASENADI KOSALA Raja Pendukung Sang Buddha   Leave a comment

    Raja Pasenadi Kosala adalah raja negeri Kosala, yang terletak di sebelah utara negeri Magadha pimpinan raja Bimbisara. Ibu kota kerajaan Kosalah adalah Savatthi. Salah satu dari saudara  perempuannya adalah permaisuri raja Bimbisara, oleh karena itu ia adalah ipar dari raja Bimbisara.

    Raja Pasenadi Kosala menjadi pengikut Sang Buddha pada masa sangat awal dari kepemimpinan Sang Buddha, dan tetap setia menjadi pendukung Sang Buddha hingga akhir hayatnya. Permaisurinya Mallika, adalah seorang ratu yang bijaksana dan religius, yang benar-benar mengetahui Dhamma dengan baik dan bertindak sesuai dengan tuntutan agamanya.

    Pada waktu pertama kali Raja bertemu dengan Sang Buddha, ia bertanya, “Bagaimana bisa Guru Gotama menyatakan bahwa Dirinya telah mencapai Penerangan Sempurna” Sedangkan Guru Gotama masih muda, baik dalam usia maupun dalam kebhikkhuan”. Sang Buddha menjawab, “Raja yang agung, terdapat empat hal yang tidak boleh dianggap enteng dan dipandang rendah dikarenakan mereka masih muda. Mereka adalah seorang prajurit kerajaan, seekor ular, api, dan seorang bhikkhu (orang suci). Seorang prajurit muda yang dibuat marah sekali akan bisa dengan kejam melukai orang lain. Gigitan seekor ular meskipun itu ular kecil, bisa mematikan. Api yang kecil  bisa menajdi api yang amat besar yang dapat menghanguskan gedung-gedung dan hutan. Meskipun seorang bhikkhu muda, ia mungkin telah mencapai kesucian”. Mendengar hal ini raja Pasenadi Kosala mengerti bahwa Sang Buddha memang benar-benar seorang guru yang bijaksana, dan ia memutuskan untuk menjadi pengikutNya.

    Raja Pasenadi suka pergi mengunjungi Sang Buddha untuk meminta nasihat. Meskipun sedang dalam tugas-tugas kerajaan, ia meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan Sang Buddha. Suatu hari ketika berbicara kepada Sang Buddha, ia menerima kabar bahwa istrinya, ratu Mallika, telah melahirkan seorang putri. Raja tidak gembira mendengar kabar  itu karena menginginkan seorang putra.
Sang Buddha, tidak seperti guru-guru agama lainnya, berkata baik tentang wanita. Beliau berkata, “Sebagian wanita adalah lebih baik daripada pria, O Raja. Ada wanita-wanita yang bijaksana, baik, yang menghormati ibu mertuanya, seperti dewa, dan yang tulus dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Mereka suatu hari mungkin melahirkan anak laki-laki yang berani yang dapat memerintah kerajaan”.

    Suatu ketika, raja datang dan mendengar bahwa Sang Buddha mengatakan, “Orang terkasih yang kita cintai akan mendatangkan duka cita dan ratapan, penderitaan, kesedihan, dan kepatahan hati”. Raja bertanya kepada ratu Mallika apakah ia setuju dengan perkataan Sang Buddha itu. Ratu mengatakan bahwa jika Sang Buddha telah mengatakan demikian, itu pastilah benar. Tetapi raja belum puas. “Bagaimana mungkin orang terkasih bisa mendatangkan penderitaan?” ragu sang Raja.

    Ratu Mallika mendatangi seorang brahmana untuk meminta Sang Buddha menjelaskan hal ini. Setelah mendengar berbagai uraian untuk menjelaskan hal ini, Brahmana menceritakannya kepada ratu. Ratu kemudian bertanya kepada raja, “Yang Mulia, bagaimana pendapatmu, apakah putri Vajira, putrimu, sayang padamu?”
 “Ya, Malika, dia sangat sayang padaku”, jawab raja.
 “Jika ada kemalangan menimpa putri Vajira, akankah itu mendatangkan dukacita dan ratapan, penderitaan, kesedihan dan kepatahan hati?
 “Ya”, jawab raja.
 “Yang Mulia, berkenaan dengan inilah Sang Buddha mengatakan bahwa orang terkasih yang kita cintai, dapat mendatangkan dukacita dan ratapan, penderitaan, kesedihan dan kepatahan hati”.
 “Mallika”, kata Raja, “Sungguh mengagumkan, sungguh menakjubkan begitu jauh Sang Buddha dapat melihat melalui pengertianNya”.
 Ketika raja Kosala kalah dari kemenakannya dan harus mundur ke ibukota Savatthi, Sang Buddha berkomentar kepada para muridNya bahwa bukan yang menang maupun yang kalah yang akan merasakan kedamaian :
 “Kemenangan membiakkan kebencian
 Yang kalah hidup dalam kesakitan
 Kebahagiaan hidup yang damai diperoleh dari
 Melepaskan kemenangan dan kekalahan”.

    Dalam peperangan berikutnya, kedua raja bertempur dan raja Kosala tidak saja menang, tetapi ia juga berhasil menangkap rja Ajatasattu hidup-hidup bersama semua pasukan gajah, kereta, kuda, dan prajuritnya. Raja Kosala berpikir akan melepaskan keponakannya, tetapi tidak untuk kuda-kuda, gajah dan yang lain-lainnya. Ia menginginkan kepuasan dari menahan harta benda ini sebagfai hadiah bagi kemenangannya.

    Mendengar hal ini, Sang Buddha mengatakan kepada para muridNya bahwa akan lebih bijaksana bagi raja Kosala untuk tidak menahan benda apapun bagi dirinya. Kebenaran dari pernyataan ini masih tetap diterapkan di dunia peperangan modern :
 “Seseorang mungkin bisa merampas semuanya. Bilamana orang lain merampas balik, ia yang terampas akan merampas balik. Roda Perbuatan terus berputar dan membuat seseorang yang dirampas menjadi merampas”.

    Raja Pasenadi Kosala bertarung dalam banyak peperangan dengan keponakannya yaitu raja Ajatasattu. Ia dikalahkan sekali dan di lain waktu ia menang.
 Raja Pasenadi Kosala akhirnya wafat dalam usia 80 tahun ketika putranya memberontak terhadapnya.

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized

MAHA PAJAPATI GOTAMI Pembentukan Sangha Bhikkhuni   Leave a comment

    Pada tahun ke-5 Kebuddhaannya, ketika Sang Buddha tinggal di Vesali, Beliau mendengar bahwa ayahnya, raja Suddhodana, jatuh sakit. Beliau memutuskan untuk mengunjungi ayahnya di Kapilavatthu untuk mengajarkan Dhamma kepadanya. Setelah mendengar uraian Dhamma dari Sang Buddha tersebut, sang Raja langsung mencapai tingkat kesucian Arahat, dan meninggal dengan damai selang tujuh hari sesudahnya. Adalah dalam tahun ini Sangha Bhikkhuni didirikan atas permohonan Maha Pajapati Gotami, bibi sekaligus ibu angkat Sang Buddha.

    Tiga kali Maha Pajapati Gotami telah menemui Sang Buddha dan memohon agar Beliau mau menahbiskannya menjadi seorang anggota Sangha, tetapi setiap kali pula Sang Buddha menolak, tanpa memberi satu alasan apapun. Setelah Sang Buddha tinggal di Kapilavatthu selama Beliau suka, Beliau melanjutkan perjalanan kembali ke Vesali.

    Pajapati Gotami adalah seorang wanita yang sangat tekun dant idak mudah putus asa. Dia memotong rambutnya dan memakai pakaian kuning, dan dengan diikuti oleh sejumlah besar wanita suku Sakya, dia berjalan sejauh kira-kira 150 mil dari Kapilavatthu ke Vesali. Ketika dia tiba di Vesali, kakinya bengkak dan tubuhnya penuh dengan debu. Dia berdiri di luar Ruangan di mana Sang Buddha tinggal, dengan air mata memenuhi wajahnya, tetap mengharap agar Sang Buddha mau menahbiskannya menjadi seorang bhikkhuni.

    Ananda sangat heran melihatnya dalam keadaan seperti ini. “Gotami, mengapa engkau berdiri di sini dalam keadaan seperti ini?” tanya Ananda.

 “Yang Mulia Ananda, itu karena Sang Buddha tidak memberi izin kepada para wanita untuk menjadi bhkkhuni”, jawabnya.

 “Tunggu di sini, Gotami, saya akan menanyakan Sang Buddha mengenai hal ini”, kata Ananda kepadanya. Ketika Ananda memohon Sang Buddha untuk merestui Maha Pajapati Gotami menjadi seorang bhikkhuni, Sang Buddha menolak. Ananda memohon tiga kali dan tiga kali pula Sang Buddha menolak.

    Ananda lalu mengajukan permohonan ini dengan cara lain. Dengan hormat ia bertanya kepada Sang Buddha, “Yang Mulia, apakah wanita mampu merealisasi tingkat-tingkat kesucian bila sebagai bhikkhuni?”

 “Mereka mampu, Ananda”, jawab Sang Buddha.

 “Jika demikian adanya, Yang Mulia, amaka akan baiklah jika wanita dapat ditahbiskan sebagai bhikkhuni”, kata Ananda, menimpali jawaban Sang Buddha.

 “Ananda, jika Maha Pajapati Gotami dapat menerima Delapan Syarat/Peraturan *), maka dapatlah dianggap bahwa ia telah ditahbiskan sebagai seorang bhikkhuni”.

    Ketika Ananda mengatakan syarat-syarat tersebut kepada Maha Pajapati Gotami, dia dnegan gembira menyetujui untuk mematuhi syarat-syarat tersebut dan dengan demikian dia secara otomatis menjadi soerang bhikkhuni. Tak berapa lama, dia mencapai tingkat Arahat. Wanita-wanita suku Sakya lainnya yang ditahbiskan bersama degnan dia juga mencapai tingkat Arahat.

    Pembentukan Sangha Bhikkhuni dengan peraturan-peraturan dan Aturan-aturan tersebut adalah sesuatu yang dilakukan oleh Sang Buddha untuk yang pertama kalinya di dunia. Tak ada pemimpin-pemimpin agama lainnya yang memberikan tempat religius sedemikian tinggi bagi wanita di dalam agamanya.

 *) Peraturan-peraturan ini berhubungan dengan Aturan-aturan Vinaya tertentu.
 

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized

NYANYIAN KEMENANGAN SANG BUDDHA   Leave a comment

    Sang Buddha telah menahan serangan terburuk dari Mara. Akhirnya si Jahat Mara mundur dan amukan badai yang diciptakannya sirna. Sekarang batin Sang Bhagava tenang dalam kedamaian. Kegelapan yang pekat memudar dan bulan penuh serta bintang-bintang muncul kembali.Sang Bhagava masuk ke dalam meditasi yang dalam, melewati batas-batas pengertian manusia, melihat dunia sebagaimana apa adanya, tidak sebagai apa penampakannya. Laksana seekor burung elang melesat tinggi ke arah matahari dengan lemasnya, batin Beliau bergerak dengan cepat ke depan dan ke atas.

    Beliau melihat kehidupan-kehidupan lampauNya dan seluruh kelahiran Beliau sebelumnya, dengan segala perbuatan yang baik maupun buruk beserta keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugiannya. Ketika batinNya melesat makin tinggi dan juga ke depan dengan cepat, Beliau melihat makhluk-makhluk lahir berulang-ulang dan mati sesuai dengan Kamma/perbuaan mereka. Mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan baik dianugerahi dengan kelahiran di alam surga. Namun meskipun anugerah-anugerah/pahala ini berakhir nya lebih lama daripada kesenangan-kesenangan duniawi, mereka tetap tidak kekal. Makhluk-makhluk yang menderita di alam neraka juga akan terus melanjutkannya di dalam lingkaran samsara. Semua makhluk hidup terperangkap di dalam dunia ketidaktahuan dan penderitaan.

    Ketika pandangan Beliau menjadi jernih seperti kristal, Beliau melihat apa yang disebut jiwa dari manusia, yang diklaim oleh manusia sebagai dirinya/miliknya, hancur berkeping-keping dan tergeletak di belakang Beliau seperti helaian benang-benang yang terurai dari sepotong kain. Beliau melihat penyebab dari rantai kehidupan, yaitu Ketidaktahuan/kebodohan. Karena manusia bodoh, melekat kepada benda-benda yang berharga, ia menciptakan ilusi-ilusi (yang sifatnya selalu berubah/tidak kekal itu) di dalam dirinya yang semakin berbahaya. Tetapi bila nafsu keinginan ini mati, nafsu berakhir, kebodohan pun buyar seperti malam berlalu, dan matahari Pencerahan akan bersinar.

    Dan setelah mengerti dunia dengan sebagaimana apa adanya., Sang Bhagava telah sempurna dalam kebijaksanaanNya, Beliau tidak akan di dilahirkan kembali. Nafsu keinginan dan keinginan-keinginan jahat benar-benar telah dimusnahkan dengan sepenuhnya, seperti api yang padam karena tiadanya minyak.Sang Buddha, Sang Sempurna, duduk bermandikan cahaya yang cemerlang dari Kebijaksanaan dan Kebenaran. Dan karena pencapaian Beliau ini, dunia menjadi tenang dan terang, serta hembusan bayu yang lembut meniup daun-daun Pohon Bodhi. Dipenuhi dengan kewelas-asihan, Sang Buddha duduk di bawah Pohon Bodhi, dalam perenungan yang dalam tentang Dhamma. Beliau larut dalam kebahagiaan, dalam kedamaian sempurna Nibbana. Pada waktu subuh sesudah Pencapaian PencerahanNya, Sang Buddha menguncarkan nyanyian kemenangan yang membahagiakan ini :
 “Melalui banyak kelahiran dalam samsara Aku mengembara
 Mencari, tetapi tidak menemukan si pembuat rumah ini.
 Menyedihkan kelahiran yang berulang-ulang.
 O pembuat rumah, kini engkau telah terlihat,
 Engkau tidak bisa membangun rumah lagi
 Semua balok kasaumu telah patah, tiang-tiang bubunganmu telah hancur.
 Batin mencapai keadaan tanpa syarat
 Tercapailah akhir dari keinginan”.

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized

MAGANDIYA Gadis Cantik yang Menaruh Dendam terhadap Sang Buddha   Leave a comment

    Magandiya adalah seorang gadis yang sangat cantik, sehingga banyak pria kaya yang ingin menikahinya. Orang tua si  gadis selalu menolak para pelamar tersebut karena menganggap mereka tidak cukup pantas bagi putrinya, bahkan ketika si orang tua gadis itu menemukan seorang laki-laki yang pantas baginya, si gadis menolak untuk menikahi siapapun kecuali seorang raja. Magandiya telah memutuskan untuk menggunakan kecantikannya untuk menikah dengan kekayaan.

    Suatu hari, ketika Sang Buddha sedang memantau dunia (dengan mata batinNya), Beliau melihat bahwa batin orang tua Magandiya telah berkembang secara spiritual. yang dibutuhkan adalah satu pernyataan dari Beliau untuk membuka mata mereka terhadap Kesunyataan. Sang Buddha pergi ke tempat di mana Brahmana tersebut sedang membuat upacara pengorbanan untuk dewa api di luar desanya.

    Ketika ayah Magandiya melihat Sang Buddha datang, dia begitu tertegun dengan keindahan fisik Sang Buddha, ketenangan serta keanggunanNya. Tidak ada yang lebih baik dari pada orang ini untuk dinikahkan kepada putriku, pikir sang Brahmana.
 
    “Jangan pergi dulu, wahai pertapa”, kata dia, “tinggallah di sini sampai aku membawa putriku menemuimu. Engkau adalah pasangan yang ideal baginya, dan juga sebaliknya. Sang Buddha tidak berkata-kata dan tetap diam, sebagai gantinya Beliau menandai jejak kakinya di tanah dan kemudian pergi. Dengan sangat gembira sang Brahmana menyampaikan berita tersebut kepada istrinya. “Cepat dandani putri kita, sayangku. Aku telah menemukan seorang laki-laki yang pantas bagi putri kita”. Ketika ketiga orang tersebut tiba di tempat tadi, Sang Buddha sudah tidak kelihatan. Mereka hanya mendapati jejak kakiNya. Sang istri, yang sudah biasa dengan tanda-tanda, membaca jejak kaki tersebut, dan berkata “Saya pikir, ini bukanlah jejak kaki dari orang yang mau menikahi putri kita, jejak ini adalah milik dari seseorang yang telah melepaskan kesenangan duniawi”.

     “Lagi-lagi kamu dan tanda-tandamu itu. Kamu melihat buaya-buaya di dalam pot air, dan perampok-perampok di tengah rumah. Lihat, itu Dia sedang duduk di bawah pohon. Sayangku, pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu mengagumkan penampilannya ?! Kemarilah, putriku. Kali ini pelamarmu demikian sempurna, di mana kamu tak dapat menemukan kekurangannya”.

    Mendengar hal ini, Sang Brahmana dan istrinya langsung mengerti bahwa kehidupan duniawi adalah menyedihkan dan bukan sesuatu yang pantas untuk dilekati, tak peduli bagaimana menarik atau indah penampilannya. Saat itu juga, mereka berdua mencapai tingkat Anagami, yaitu tingkat kesucian yang ketiga. Tapi malangnya, Magandiya yang sombong, yang batinnya belum berkembang secara spiritual, tidak dapat mengerti arti yang sesungguhnya dari kata-kata ini. Ia mengira Sang Buddha menghina kecantikannya. “Bagaimana bisa Pertapa ini menghinaku, sementara begitu banyak laki-laki yang takluk kepada kecantikanku pada pandangan pertama. Meskipun jika ia tidak ingin menikahiku, ia tidak seharusnya mengatakan bahwa tubuhku ini penuh dengan kekotoran”. Sambil mengepalkan kedua telapak tangannya, ia menggeram di sela-sela nafasnya, “Kamu tunggu saja, hai pertapa. Bilamana aku menikah dengan seorang suami yang berkuasa, aku akan membalas semua ini”.

    Singkat cerita, Magandiya kemudian menikah dengan raja dari negeri Udena. Ketika ia mendengar bahwa Sang Buddha telah memasuki kota tersebut, kebenciannya terhadap Sang Buddha muncul kembali. Lalu ia menyogok dan menghasut orang-orang untuk menghina Sang Buddha dan untuk mengusir Beliau. Ananda, yang sedang bersama Sang Buddha, tidak ingin berdiam di sana dan menerima hinaan-hinaan tersbut, tetapi Sang Buddha menasihatinya untuk mempraktikkan toleransi dan kesabaran. Sang Buddha berkata, “Seperti seekor gajah di medan perang yang sanggup menahan anak-anak panah yang dilepaskan dari busurnya, demikian juga Tathagata akan menahan cercaan dari orang-orang yang tak beragama”. Sang Buddha berkata bahwa kata-kata yang menyakitkan tersebut tak akan bertahan lama, karena adanya kekuatan kesempurnaan yang dimiliki oleh Sang Buddha. Mereka akhirnya tetap tinggal di Udena, dan semua cercaan tersebut berhenti dalam waktu yang singkat.

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized

  Leave a comment

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized

 HARI TERAKHIR SANG BUDDHA   Leave a comment

    Banyak kejadian dalam kehidupan Sang Buddha yang terjadi sesudah tahun ke-45 usia Sang Buddha, dicatat tanpa petunjuk tahun yang pasti saat maan kejadian itu berlangsung. Akan tetapi kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun ke-80 usia Sang Buddha, ditulis pada tahun tersebut karena kejadian-kejadian tersebut dicatat di dalam Maha Parinibbana Sutta.

    Ketika Sang Buddha mencapai usia ke-80, Beliau merasa bahwa hariNya di dunia ini hampir berakhir. Merskipun Beliau menderita sakit dan akibat-akibat dari usia tua seperti orang-orang pada umumnya, Beliau berbeda dari orang kebanyakan. Dengan kekuatan batinNya yang dikembangkan melalui latihan batin yang telah maju sekali, Beliau mampu mengatasi berbagai rasa sakit di tubuhNya. Batin Beliau selalu bersinar laksana berlian yang bersinar, meskipun jasmaniNya telah mulai melemah.

    Dalam tahun terakhir dari hidupNya ini, Beliau memutuskan untuk menghabiskan hari-hari terakhirNya di alam sekitar yang tenang dan damai di Kusinara, desa kecil di Utara India. Beliau lebih suka pergi meninggalkan kota-kota besar dan makmur seperti Rajagaha dan dan Savatthi beserta keramaian-keramaiannya, para pedagang, dan para rajanya di sana.

    Kota tempat Beliau memulai perjalananNya adalah Rajagaha, ibukota Magadha. Beliau melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, ditemani oleh Yang Mulia Ananda serta banyak siswaNya, berjalan melewati banyak kota dan desa. Waktu ini, Yang Mulia Rahula dan Yang Mulia Yasodhara telah meninggal dunia, begitu juga dengan kedua orang murid utama Sang Buddha, Yang Mulia Moggallana dan Yang Mulia Sariputta.

    Selama perjalanan, pikiran-pikiran Sang Buddha tertuju pada kesejahteraan Persaudaraan pada Bhikkhu. Banyak dari khotbah Beliau yang berisikan nasihat-nasihat bagaimana para bhikkhu seharusnya berperilaku untuk memastikan bahwa Persaudaraan para Bhikkhu dapat berjalan terus setealah kemangkatanNya. Beliau mengingatkan para MuridNya untuk mempraktekkan semua Kebenaran (Dhamma) yang telah Beliau ajarkan kepada mereka.

    Satu khotbah, mengingatkan para murid untuk melaksanakan ke-37 Faktor Pencerahan (Bodhipakkhiya-Damma); khotbah lainnya tentang empat cara untuk menilai/mengecek apakah suatu ajaran itu adalah ajaran Sang Buddha atau tidak, dengan membandingkan mereka dengan Vinaya (peraturan-peraturan disiplin untuk para bhikkhu) dan Sutta-sutta (khotbah-khotbah Sang Buddha).

    Ada satu khotbah yang Sang Buddha berikan berulang-ulang selama perhentian-perhentiannya dalam perjalanan terakhirNya ini. Itu adalah khotbah tentang pahala-pahala dari mengikuti 3 faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan; kemoralan, konsentrasi, dan kebijaksanaan, yang akan dapat menolong para siswa bebas dari semua penderitaan.

    Setibanya di Pava, Sang Buddha dan para siswaNya diundang oleh putra pandai emas desa itu yang bernama Cunda, untuk menerima makanan yang dinamakan Sukaramaddava, atau bagian daging babi jantan adalah hidangan enak yang khusus terbuat dari jamur-jamuran yang bernama Sukaramaddava, tetapi yang lainnya mengatakan bahwa itu adalah hidangan dari daging bagi hutan jantan.

    Sang Buddha menyarankan agar Cunda menghidangkan Beliau hanya Sukaramaddava yang telah disiapkannya. Makanan lainnya yang telah Cunda persiapkan, dapat dihidangkan kepda para bhikkhu lainnya. Kemudian Sang Buddha mengatakan padanya, “Cunda, jika masih ada Sukaramaddava yang tersisa, kuburkan ia di dalam lubang. Tathagata tidak melihat ada seorang  pun di dunia ini selain Tathagata yang mampu mencerna makanan ini”.

 “Oh, demikiankah, Bhante”, jawab Cunda, dan ia menguburkan sisa makanan tersebut di dalam tanah. Ia mendatangi Sang Buddha, dan setelah memberi hormat, ia duduk di satu sisi. Kemudian Sang Buddha mengajarkannya Dhamma. Sang Buddha juga memuji Cunda tas hidangannya yang telah membuat Beliau segar dan kuat kembali setelah perjalanan jauh. namun segera sesudah itu, Sang Buddha menderita sakit perut akibat serangan Disentri, yang mana sebelumnya telah diderita Beliau di desa Beluva, dan sakit yang amat sangat kini menyerangNya. Dengan usaha dari kemauan, Beliau sangggup menahan rasa sakit tersebut. Meskipun amat lemah, Sang Buddha memutuskan untuk langsung meneruskan perjalanan ke Kusinara, yang jauhnya kurang lebih 6 mil lagi. Setelah perjuangan melawan sakit, Beliau tiba di hutan pohon Sala, yang persis berada di pinggiran kota.

    Sang Buddha mandi untuk terakhir kalinya di sungai Kuttha. Setelah istirahat sejenak, lalu Beliau berkata: “Sekarang mungkin akan terjadi bahwa sebagian orang akan membuat Cunda menjadi menyesal karena telah memberi Tathagata hidangan yang membuatNya sakit. Ananda, bila ini terjadi, engkau harus mengatakan kepada Cunda bahwa engkau telah mendengar langsung dari Sang Buddha bahwa itu adalah keberuntungan bagi dia. Katakan padanya bahwa ada dua macam persembahan kepada Sang Buddha yang mempunyai pahala yang sama, yaitu persembahan makanan saat menjelang Pencerahan Sempurna-Nya dan persembahan makanan pada saat menjelang Kemangkatan-Nya. Ini adalah kelahiran terakhir dari Sang Buddha”.

    Kemudian Beliau berkata, “Ananda, tolong siapkan tempat pembaringan untuk Tathagata degnan kepala mengarah ke Utara, di antara dua pohon Sala besar. Tathagata lelah dan ingin berbaring”.

    Pada saat itu juga, kedua pohon Sala tersebut tiba-tiba dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran karena pengaruh dari para Dewa; meskipun saat itu bukan musimnya. Mereka menaburi dan memandikan Sang Buddha dengan bunga-bunga yang dijatuhkannya, sebagai ungkapan rasa hormatnya kepada Beliau. Kemudian Sang Buddha berkata kepada Ananda, “Ananda, kedua pohon Sala besar ini menaburi Tathagata degan bunga-bunganya seolah-oleh mereka memberi penghormatan kepada Tathagata. Tetapi ini bukanlah cara bagaimana Tathagata seharusnya dihormati dan dihargai. Melainkan, adalah bila para bhikkhu dan bhikkhuni, atau laki-laki dan perempuan umat awam, yang hidup sesuai dengan Ajaran Tathagata, itulah cara menghormati dan menghargai Tathagata”.

    Terdapat 4 tempat bagi pengikut setia Buddha untuk dikunjungi, yang akan menjadi inspirasi bagi mereka. Inilah keempat tempat suci yang berhubungan dengan kehidupan Sang Buddha:

1. Tempat kelahiran Sang Buddha.
2. Tempat dimana Sang Buddha mencapai Kebuddhaan (Penerangan Sempurna)
3. Tempat dimana Sang Buddha memberikan KhotbahNya yang pertama dan
    memutar Roda Dhamma yang tiada bandingnya.
4. Tempat dimana /Sang Buddha mencapai Maha Parinibbana.

    Sesaat sesudah itu, didapati bahwa Y. M. Ananda tidakk ada di sana. Ia telah pergi ke dalam kutinya, berdiri dengan bersandar di pinggir pintu sambil menangis. Ia berpikir, “Aduh! Saya masih seorang yang harus belajar (sekha), seorang yang masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Dan Sang Guru akan meninggalkan saya – Ia yang amat baik!”

    Dan, Sang Buddha memanggil Ananda, berkata padanya, “Sudahlah Ananda! Janganlah bersedih dan menangis. Bukankah Tathagata telah berulang kali mengatakan kepadamu bahwa kan terjadi perpisahan dan meninggalkan semua yang disayangi dan dicintai? Bagaimana mungkin bahwa segala sesuatu yang telah dilahirkan, yang memiliki awal, dapat melawan kematian? Hal semacam itu tidaklah mungkin.

     “Ananda, engkau telah melayani Tathagata degnan tindakan yang penuh cinta-kasih, selalu siap menolong, dengan senang hati, dan bersahabat, demikian pula dalam ucapan dan pikiranmu. Engkau telah membuat kebajikan, Ananda. Terusalah berusaha dan engkau akan segera terbebas dari semua kelemahan kemanusiaanmu. Dalam waktu yang sangat singkat engkau akan menjadi Arahat”.

     “Sekarang engkau boleh pergi, Ananda. Tapi pergilah ke Kusinara dan katakan kepada semua orang bahwa malam ini, pada waktu jaga terakhir, Sang Buddha akan mangkat menuju Nibbana. datang dan temuilah Sang Buddha sebelum Beliau mangkat”.

    Maka, Y. M. Ananda degnan ditemani seorang bhikkhu lainnya melaksanakan apa yang disuruh oleh Sang Buddha, pergi ke Kusinara untuk mengumumkan kepada ordang-orang di sana. Dan semua orang di Kusinara, laki-laki, perempuan, dan anak-anak datang ke tempat pohon Sala kembar untuk menyampaikan selamat tinggal kepada Sang Buddha. Keluarga demi keluarga, mereka bernamaskara di dekat Sang Buddha sebagai ucapan selamat tinggalnya kepada Beliau.
 

Posted January 25, 2011 by chandra2002id in Cerita Buddhist, Uncategorized